21 Bridges — Review: Another City Cop Drama

User Rating: 6

Sebagai salah satu film yang diproduseri Russo bersaudara, ekspetasi saya cukup tinggi. Karena nama mereka sudah menorehkan sejarah pada Marvel Cinematic Universe. Namun ya, meski mengusung nama-nama yang cukup menjanjikan, bukan berarti filmnya benar-benar menjanjikan seperti namanya. Terlebih, job desk nya kali ini sebagai produser, bukan sutradara seperti di film-film Universe sebelah, JoyFriends.

Film berdurasi 100 menit yang disutradarai oleh sineas Brian Kirk ini bercerita mengenai seorang detektif polisi New York City bernama Andre Davis (Chadwick Boseman) terkenal sebagai detektif polisi yang selalu menembak mati terduga kriminalnya yang tidak bisa berkerjasama. Satu malam, Davis menarik 21 jembatan Manhattan demi ia dan otoritas setempat dapat menangkap kurir narkoba sekaligus dua pembunuh banyak polisi, yaitu Michael Trujillo (Stephan James) dan  Ray Jackson (Taylor Kitsch). Premis yang cukup simpel dan lugas. Kira-kira, gimana sih kalau pemeran Black Panther ini menjadi seorang detektif polisi ahli, JoyFriends? Apakah dengan nama-nama besar yang menjanjikan akan menjadikan film ini akan membuat film ini menjadi luar biasa?

Nggak henti-hentinya JoyPixel ingatkan agar membaca dengan hati-hati ya, takut mengandung spoiler yang akan mengganggu kenyamanan JoyFriends menonton di bioskop favoritmu. Tapi yang pasti tetap penulis usahakan agar ulasannya bersifat spoiler free.

Ekspetasi saya ketika mendengar film detektif polisi adalah penuh deduksi, analisis, serta penuh aksi. Itu hampir disajikan semua pada film ini, hanya penyampaiannya yang terkesan kurang greget. Film 21 Bridges sudah action-packed, meski jangan ngebayangin aksinya akan seperti Tom Cruise di film Mission Impossible, yah. Meskipun penuh aksi, tapi sepanjang film saya nggak terlalu merasa deg-degan gitu, JoyFriends. Mungkin juga karena alurnya yang terkesan lambat.

Yang entah membuat saya senang adalah hadirnya J. K. Simmons di deretan para pemeran film ini. Aktor pemeran J. Jonah Jameson pada Trilogi Spider-Man Sam Raimi dan Spider-Man Far From Home ini membuat saya berekspetasi ia akan sekeren film Whiplash aktingnya sebagai Terence Fletcher, hanya versi polisinya.

Meski adegan aksinya nggak terlalu bikin deg-degan, tapi ada satu adegan yang bikin gregetan sendiri sambil ngomong, “Aduh, bodoh!”. Kayak pengen marah sendiri gitu nontonnya. Deduksi dan analisisnya nggak terlalu detail kayak Sherlock Holmes-nya Benedict Cumberbatch, pun yang Sherlock Holmes-nya Robert Downey Jr. juga nggak. Atau kayak serial CSI deh. Ya meskipun sedikit berbeda. Adegan tembak-menembaknya juga nggak terlalu sadis kok. Meski begitu, kamu harus tetap menonton film sesuai kategori umur ya, JoyFriends!

Pengenalan karakter pada film ini terkesan aneh dan tidak terlalu menonjol. Saya aja hampir nggak hafal nama-namanya selain tokoh utama, bahkan untuk ukuran penjahatnya. Korban polisi yang ditembak pun disebutkan satu-satu namanya, padahal kita sama sekali nggak tau yang mana, karena nggak ada shoot yang memperlihatkan orangnya yang mana. Deliver-nya kurang maksimal.

Jalan ceritanya pun ya banyak ketebak, nggak terlalu bikin kamu mikir. Resolusi konfliknya pun termasuk mudah, nggak ada kesulitan banget, kecuali satu bagian yang saya gregetan di atas tadi. Nggak ada adegan hancur-hancuran secara besar seperti film pada umumnya. Mungkin ingin lebih mendekatkan dengan realitas, tapi kesannya jadi kurang seru aja gitu, gampang banget musuhnya ke kunci. Terus nasib yang bandar narkoba utamanya juga nggak kesentuh.

Penangkapan musuhnya yang terlalu mudah ini awalnya nggak terpikir oleh saya bahwa ternyata akan ada sedikit plot twist di bagian akhirnya, yang ternyata membuat film ini nggak selesai gitu aja, meski bukan yang mengejutkan banget. Tapi ada satu hal yang membuat saya kagum akan plot twist ini, karena secara nggak terduga membahas soal ironi kelas pekerja di Amerika Serikat.

Dari segi sound, tone, dan sinematografinya termasuk cukup bagus, nggak ada yang harus dikomentari, karena sudah cukup dimanjakan saat menontonnya. Shot-nya pas antara wide, medium, semi-medium, dan portrait untuk mendapatkan segala emosi yang dibutuhkan. Secara scoring musiknya juga cukup bagus, tapi nggak terlalu ‘wah’ banget. Pun begitu juga dengan akting-akting para aktornya.

21 Bridges sudah bisa kamu nikmati di sinema favorit kamu mulai 23 November 2019, JoyFriends! 

Summary
Pada akhirnya, film ini sudah cukup enak untuk dinikmati pecinta film, terutama yang menyukai film kriminal, aksi polisi. Filmnya nggak terlalu berat, nggak terlalu enteng juga. Lumayan cocok untuk kamu yang udah nonton semua film bioskop dan belum ada lagi, ini cocok untuk masuk list. Seenggaknya cukup menghibur hari yang kosong. Apalagi kamu bisa menonton akting dari Chadwick Boseman dan J.K. Simmons
Good
  • Sedikit mengangkat isu tentang ironi kelas pekerja
  • Beberapa bagian yang bikin gregetan
Bad
  • Penyampaian perkenalan karakter yang agak aneh
  • Nggak terlalu tegang
  • Cerita yang lambat
6
Fair
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.