Doctor Sleep – Review: Banyak Referensi The Shining

User Rating: 8

Belum lama ini kita disajikan oleh film It: Chapter Two, adaptasi dari novel karya novelis horor legendaris, Stephen King! Berdekatan dengan momen badut Pennywise ini sukses menghantui jagat sinema, kini Warner Bros. Pictures seakan nggak memberikan kita nafas untuk terlepas dari bayang-bayang keseraman a la Stephen King, JoyFriends. Warner Bros kembali siap menyebarkan teror terbaru dalam film teranyarnya: Doctor Sleep.

Doctor Sleep merupakan sebuah judul sekuel film dari buku yang berjudul sama, setelah sekitar empat dekade paska rilisnya The Shining tidak ada kelanjutannya pada buku maupun versi layar lebar. Menurut sineas Mike Flanagan, film ini ingin menggabungkan unsur original novel Doctor Sleep dengan versi film The Shining garapan sineas Stanley Kubrick. Pembuatan naskahnya pun terbilang hati-hati hingga Flanagan berkonsultasi terlebih dahulu dengan Stephen King paska ia menyelesaikan membaca novel Doctor Sleep. Konon, Stephen King kurang menyukai naskah yang dibuat oleh Stanley Kubrick terdahulu.

Sebelum review ini dimulai, nggak henti-hentinya JoyPixel mengingatkan kamu kalau ulasan ini mungkin akan mengandung sedikit spoiler. Tapi tetap diusahakan bebas spoiler kok hehe. Satu kalimat pula yang membuka ulasan film kali ini: ide Stephen King membuat sesuatu yang horror memang nggak habis-habis dan cenderung out of the box!

Doctor Sleep bercerita mengenai masa ketika Dan Torrance (Ewan McGregor) tumbuh menjadi pria dewasa dan pemabuk dengan bakatnya yang disebut shining. Bakatnya berusaha ia sembunyikan hingga melalui bakatnya itu Torrance bertemu dengan Abra Stone (Kyliegh Curran) yang ternyata memiliki ‘bakat’ yang sama. Abra kemudian tak sengaja membawa Torrance kepada suatu kasus kehilangan yang disebabkan salah satu sekte bernama True Knot, yang dipimpin oleh Rose the Hat (Rebecca Fergusson). Sekte ini menghisap steam, satu gas yang diproduksi oleh anak kecil ‘berbakat’ setelah merasakan kesakitan dan sesaat ingin meninggal, demi memperpanjang umurnya.

Jangan heran ketika kamu menonton Doctor Sleep, nbanyak sekali referensi-referensi yang mengarah pada film pertamanya. Hal ini juga yang membuat film karya sineas Mike Flanagan ini terasa ‘dekat’, dan tidak seperti film yang jaraknya empat dekade. Tentunya dengan perkembangan secara audio, dan efek visual yang lebih bagus.

Karena itulah, ada baiknya sebelum kamu menonton film Doctor Sleep, kamu menonton film atau buku pertamanya terdahulu karena ada kejutan-kejutan lucu yang terselip dalam film ini, JoyFriends. Tapi jangan takut. Ketika kamu menonton film ini dan belum menonton The Shining, kamu nggak akan sampe segitunya ketinggalan sehingga nggak bisa menikmati filmnya. Kamu tetap bisa menikmati film ini meski belum menonton film sebelumnya kok, JoyFriends. Hanya saja banyak referensi yang mengarah yang kalau udah nonton kayak wow banyak kejutan, kalau yang belum nonton nggak sama sekali mengurangi keseruannya.

Dimulai dengan Baik, Melambat di Akhir

Film yang berdurasi 152 menit ini dimulai dengan alur yang pas di satu jam pertama, pengenalan konflik langsung ketika film dimulai, namun terasa sedikit lambat pada resolusi konflik di akhir. Bukan apa-apa, rasanya ketika bertemu dengan main villainnya pengen cepet-cepet dilawan saking gregetnya.

Meski kalau di dunia nyata kita berharap nggak banyak menjatuhkan korban dan pihak yang bertanggung jawab segera menyelesaikan konflik, tapi nggak gitu dengan film. Meski dilambangkan dengan daftar korban hilang yang cukup banyak, dan diceritakan melalui dialog, tetapi visual yang dihadirkan membuat penonton atau entah hanya saya saja, terasa kalau korbannya kurang banyak.

Jangan salah, saat ada adegan korbannya, saya dibuat menggigit jari. Saya deg-degan dan nafas saya cukup sesak disertai rasa ngilu, hingga tatapan saya berpaling dari layar bioskop. Plus ini catatan buat yang nggak terlalu kuat melihat darah dan adegan sadis, mending film ini dilewatkan dulu deh. Jangan lupa pula film ini untuk 17 tahun ke atas. 

Bisa dibilang film ini minim unsur jump scare yang seakan wajib digunakan pada film horror-thriller kebanyakan. Tapi hal ini sama sekali nggak mengurangi keseraman dan ketegangan film ini, bahkan cenderung natural.

Gimana JoyFriends, makin nggak sabar kan nonton Doctor Sleep di sinema favoritmu? Doctor Sleep sudah hadir di sinema favoritmu mulai Rabu (6/11/2019), dan coba sendiri rasakan sensasinya, yah.

Summary
Pada akhirnya, sineas Mike Flanagan telah sukses menggabungkan dua bidang seni yang berbeda: buku dan film, dengan sangat baik. Satu sisi, ia melanjutkan film The Shining dengan menambahkan banyak referensi, sehingga para penonton nggak merasakan banyak gap ketika menonton film yang jaraknya hampir empat dekade. Penonton yang belum menonton maupun yang baru nonton The Shining pun serasa diperingatkan ketika menonton Doctor Sleep. Sisi lainnya, Flanagan juga mengadaptasi dan berkonsultasi langsung dengan sang kreator Stephen King.
Good
  • Ide fresh dari Mike Flanagan dan Stephen King
  • Ceritanya nggak terlalu mainstream,
  • Terlihat natural tanpa efek jumpscare
  • Nggak terlihat gap jauh antara Doctor Sleep dengan The Shining.
Bad
  • Korban yang berjatuhan kurang banyak,
  • Terlalu banyak referensi The Shining yang mungkin membuat orang berpikir, "Apaan, sih?"
8
Great
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.