Frozen II – Review: Dingin Yang Terasa Hangat

Dingin, megah, heartwarming!

Itulah kata pertama yang langsung terlintas di otak ketika saya mendengar kata film animasi musikal Frozen besutan Disney ini. Bayangan lain yang saya rasakan saat melihat poster Frozen adalah kekeluargaan yang terasa saat natal datang, dibalut dengan musik megah yang khas nan dreamy.

Paska kesuksesan film perdananya, Frozen awalnya tidak ingin dibuatkan sekuelnya karena akan terkesan memaksa, dan malah merilis film animasi pendek berjudul Frozen Fever dan Olaf’s Frozen Adventure. Frozen II seringkali digosipkan akan mengangkat isu mengenai kesetaraan orientasi seksual, alias Elsa memiliki seorang kekasih yang juga seorang perempuan. Tapi benarkah isu itu, JoyFriends?

Disutradarai oleh Chris Buck dan Jennifer Lee, film berdurasi 103 menit ini merupakan sebuah sekuel dari film perdananya 2013 silam. Nggak berasa yah sudah lama banget? Nah kira-kira worth it kah penantian selama enam tahun untuk sebuah film sekuel? Sebelum ulasan ini dimulai, nggak henti-hentinya JoyPixel menyarankan untuk berhati-hati, karena takutnya akan mengandung sedikit spoiler yang mengurangi kenyamanan nonton kamu. Tanpa lama-lama lagi, yuk kita ulas filmnya sekarang, JoyFriends! 

Film yang diproduseri oleh Peter Del Vecho ini berlatar tiga tahun setelah kejadian pada film pertamanya. Suatu hari Elsa (Idina Menzel) mendengar suara aneh yang orang lain tidak bisa dengar. Kerajaan Arandelle pun tertimpa musibah, hingga mengharuskan Anna (Kristen Bell), Kristoff (Jonathan Groff), dan Olaf (Josh Gad) menemani Sang Ratu es tersebut mencari solusinya dengan mengikuti suara yang ia dengar.

Suara yang ia dengar itu berhubungan dengan ingatan yang Elsa dan Anna miliki tentang cerita mendiang kedua orangtuanya. Film besutan Walt Disney Pictures ini banyak ngejawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kamu tanyakan di film pertamanya seperti: Kenapa Elsa bisa punya kekuatan es yang begitu besar, ke mana orang tua mereka pergi dan di mana kapal orang tua mereka tenggelam. 

Film ini juga memperkenalkan beberapa karakter baru yang melengkapi cerita dan menjawab beberapa pertanyaan. Kita jadi mengetahui siapa nama orangtua-nya Elsa dan Anna, termasuk pendahulunya. Beberapa karakter itu adalah Raja Agnarr (Alfred Molina) dan Ratu Iduna (Evan Rachel Wood) alias orang tua Elsa dan Anna yang tidak diperkenalkan di film pertamanya. Ditarik lebih jauh lagi ada Raja Runeard (Jeremy Sisto), raja sekaligus ayah dari Raja Agnarr, kemudian Letnan Destin Mattias (Sterling K. Brown), pemimpin dari prajurit Arandelle yang terperangkap di hutan selama beberapa tahun, Yelana (Martha Plimpton), pemimpin suku Northuldra, serta dua anggota sekaligus kakak-adik dari suku Northuldra lainnya, Ryder (Jason Ritter), dan Honeymaren (Rachel Matthews).

Frozen II masih menggunakan rumus yang sama seperti film perdananya: banyak story telling melalui lagu-lagu yang dreamy nan megah (namanya juga film animasi musikal), humor kocak dan segar a la Olaf, serta hubungan heartwarming antara kakak-beradik Elsa dan Anna. Tapi itu bukan hal yang buruk loh, karena rumus di atas dieksekusi dengan sangat baik.

(Credit: Hollywood Reporter)

Fase-fasenya begitu singkat, padat, dan jelas, nggak dikasih kendor. Ceritanya itu begitu tight dan fokus. Resolusi konfliknya terlalu mudah selesai, yaudah gitu aja tiba-tiba beres dengan kekuatan Elsa. Premis ceritanya juga simpel, tujuannya jelas, dan tidak ada sub-plot, tetapi ada sedikit plot-twist mengenai asal-usul Kerajaan Arandelle. Karakter-karakter barunya juga dipergunakan hanya sebagai sebuah jawaban, keterlibatannya lebih jauh tidak sebanyak film perdananya. Bahkan Frozen II terasa lebih cepat dibanding seri Frozen pertamanya, meski sebenarnya durasi Frozen II kurang lebih sama dengan sebelumnya.

Sayangnya juga permasalahan antara Elsa dan Anna nggak sedalem film pertamanya. Film perdananya berkali-kali saya tonton masih berasa sedih dan ‘hangat’, tapi tidak begitu terasa kali ini. Mungkin karena konflik yang disajikan kurang mendalam dengan resolusi konflik yang sudah pernah dipertontonkan sebelumnya.

Tapi semua itu cukup terbayarkan oleh humor-humor nggak terduga dari Olaf. Belum lagi parodi video klip musik tahun 80-90an yang dimainkan oleh Kristoff. Selain humornya, animasi film ini begitu menghibur dan udah jadi pakem di pikiran banyak orang, musiknya pun juga jadi salah satu yang menghibur kita. Ngomongin musik, pengisi soundtrack Frozen II diisi oleh dua band favorit saya, Panic! At the Disco dan juga Weezer. Bahkan saya sendiri kaget pas ternyata Weezer jadi soundtrack-nya Frozen II.

Lagu-lagunya kembali ditulis oleh orang yang sama seperti film pendahulunya, sang pasangan suami-istri Robert Lopez dan Kristen Anderson-Lopez yang pernah memenangkan Grammy, dan selalu mengerjakan musik bersama-sama untuk film lainnya seperti halnya Coco. Sementara untuk scoring-nya kembali dinaungi oleh Christope Beck. Untuk soundtrack serta animasinya-nya nggak banyak komen, deh. Pokoknya asik dalam menggambarkan dunia kerajaan Skandinavia pada abad 18 hingga 19. Pengisi suaranya pun nggak memiliki cacatan aneh karena sudah sangat cocok mengisi suara di film ini, padahal ada beberapa pengisi suara yang diganti, seperti pengisi suara Raja Agnarr dan Ratu Iduna, alias orang tua Elsa dan Anna.

(Source: Los Angeles Times)

Film yang ditulis oleh Chris Buck dan dibantu oleh Jennifer Lee (Wreck-It Ralph) ini memang melengkapi film sebelumnya sebagai antitesa yang menjawab berbagai pertanyaan. Film ini memang menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai asal-usul kekuatan Elsa, tapi tidak dengan Anna. Kenapa Anna tidak memiliki kekuatan yang sama dengan Elsa? Apa karena kebetulan saja Anna mengikuti gen tertentu? Saya pun turut mempertanyakan ending dari film ini. Apa itu? Coba saja tonton sendiri, JoyFriends. Satu pesan penulis, jangan lewatkan bagian credit scene-nya ya, karena ada ekstra kelucuan yang diberikan.

Gimana, sudah nggak sabar berlibur bersama keluarga atau orang tersayang di akhir pekan sambil menikmati animasi yang menyenangkan, lagu yang indah dan menghibur, serta humor yang sejenak membuatmu terlupa dari rutinitasmu? Mari berpetualang bersama Elsa dan Anna di sinema favoritmu mulai 20 November 2019 mendatang, JoyFriends!

Summary
Sepertinya Frozen II memang ditujukan untuk orang yang butuh hiburan bagus tanpa perlu capek-capek mikir. Cocok banget buat kamu yang ingin berakhir pekan bareng keluarga untuk melepas penat dari rutinitas monoton selama seminggu dan sejenak ingin bersantai menyegarkan kepala. Belum lagi pesan moral yang selalu disampaikan oleh film Frozen itu begitu dalam, namun disampaikan dengan begitu enteng.
Good
  • Heartwarming
  • Animasi yang bagus
  • Musik-musik yang menghibur
  • Humor!
  • Nggak terlalu berat
  • Penjelasan masa lalu Elsa dan Anna
  • Cerita yang fokus
Bad
  • Resolusi konflik yang terlalu mudah,
  • Pertanyaan yang masih menggantung
  • Konflik yang kurang mendalam
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.