Godzilla: Planet of the Monsters – Review : Awal yang Gila

User Rating: 8
Kamu nggak cuma akan melihat satu Godzilla di sini, tapi ada dua sejauh ini. Buru tonton deh! (doc. Netflix & Toho Animation)

Januari ini Netflix menghadirkan cerita pertama dari trilogi Godzilla yang baru, yaitu Godzilla: Planet of the Monsters atau Godzilla Kaiju Wakusei. Serial ini sendiri merupakan proyek reboot ‘monster’ Godzilla yang menghadirkan sesuatu yang baru, di mana si “kadal raksasa” ini jadi anime.

Trilogi ini merupakan pertama kalinya versi anime makhluk berjuluk King of Monsters hadir dalam franchise sang kaiju legendaris ini. Anime trilogi Godzilla Kaiju Wakusei ini dibuat dalam bentuk CGI dan menjadi film ke-30 dalam dunia Godzilla di Jepang.

Cerita dalam Godzilla: Planet of the Monsters ini berlatar di tahun 2048. Umat manusia dipaksa meninggalkan Bumi setelah puluhan tahun kalah bertarung dengan Godzilla dan kaiju lainnya. Mereka pun tinggal di planet yang nggak berpenghuni bernama Tau Ceti e. Seorang pemuda bernama Haruo Sakaki bersumpah akan mengembalikan Bumi seperti semula dan merebut rumah umat manusia tersebut dari sang monster raksasa itu.

Setelah berkelana cukup lama dan 20 tahun tinggal di planet tak berpenghuni tersebut, sekelompok manusia yang bergabung dengan ras alien bernama Exif dan Bilusaludo, kembali pulang ke Bumi setelah mereka merasa mencari tempat tinggal baru kayaknya udah susah banget. Apalagi persediaan pangan menipis. Namun, ketika sampai di Bumi mereka sadar kalau ekosistem yang mereka kenal telah berubah dan Godzilla menjadi pemuncak rantai makanan.

Manusia dan alien bergabung, tetap percuma

Ya, kayak yang udah dibilang di atas, manusia dan alien yang terdiri dari dua ras, Exif yang sedikit religius dan Bilusaludo yang tampaknya ahli dalam membuat senjata, bergabung bersama setelah masing-masing menjelajah alam semesta sebelum singgah ke Bumi. Namun setelah bangkitnya para kaiju, kelompok tersebut meninggalkan Bumi untuk waktu 20 tahun bagi mereka, tapi nggak buat yang memang masih tinggal di Bumi, di mana mereka merasakan hidup selama 20.000 tahun. Termasuk sang Godzilla dan kaiju lainnya.

Setelah menjelajah dan sampai lagi di Bumi untuk dapat meninggalinya lagi, mereka kembali berhadapan dengan Godzilla. Akan tetapi, dengan rencana yang sangat tersusun rapi aja mereka masih ketar-ketir. Padahal taktik dan rencana, serta aksi nekat karakter utama kita, Haruo, menurut saya udah cukup maksimal untuk dapat mengalah satu Godzilla. Ya, baru satu Godzilla lho.

Baca Juga :

Faktanya saat kamu menonton anime ini, kehadiran Godzilla yang “sebenarnya” ternyata jauh lebih gila. Bener-bener gila! Godzilla yang “sebenarnya” ini memiliki tinggi 300 meter, terbesar dalam sejarah franchise-nya. Plus dengan sekali kebasan ekornya, makhluk yang menjadi musuh atau ancamannya langsung kalah. Bahkan nuclear blast-nya nggak biasa. Seakan si Godzilla yang di ujung film disebut sebagai King of Destruction ini telah selesai berevolusi selama 20.000 tahun.

Jadi, meskipun manusia dan alien udah bergabung bersama-sama, hasilnya melawan the real Godzilla ini masih percuma. Namun, aksinya di bagian pertama trilogi Godzilla ini bener-bener awal yang gila. Menghibur dan cukup bikin geregetan. Gila karena memang lawan monster terkuat di Bumi ini butuh effort yang lebih dan tak terbayangkan, meskipun teknologinya udah sangat maju dan udah termodifikasi dengan bantuan Exif dan Bilusaludo!

Scoring yang nggak greget

Menurut saya, secara visual CG nggak ada masalah. Godzilla: Planet of the Monsters ini bener-bener menghadirkan visual baru yang segar (padahal mah Buminya nggak cerah-cerah amat sih, kebanyakan kabut) dan memang oke punya. Apalagi visualisasi dari King of Destructionnya bener-bener sangar banget dan buat saya sih cukup detail.

Aksi yang disuguhkan dalam melawan sang monster raksasa dan legendaris di Bumi ini juga cukup ciamik. Meskipun ada beberapa pergerakan atau aksi yang kurang greget, tepatnya dalam menghindari serangan dari sang “Raja”, selebihnya dalam visualisasi perang buat saya cukup bikin gregetan.

Sayangnya aksi yang ciamik tersebut nggak dibarengi dengan scoring yang gahar. Nggak perlu scoring sempurna layaknya DC Extended Universe lewat Wonder Woman atau Justice League deh, cukup dengan scoring dengan musik menegangkan dan keras seperti musik rock aja nggak apa-apa. Lebih bikin deg-degan lah. Lah ini, menurut saya scoring-nya nggak mendukung untuk dapat memompa adrenalin dengan cepat.

Bukan ketika sedang beraksi aja scoring-nya nggak greget, tapi ketika dalam drama saat ada yang mati dalam perang atau drama lainnya, juga nggak bikin kita terhanyut. Mungkin kalau lebih greget lagi, bisa bikin kita lebih larut dalam menikmati anime ini.

Terlalu futuristik, tapi nggak masalah

Sebenernya sih yang bikin sedikit ganjel nonton anime ini ialah latarnya terlalu futuristik. Buat saya yang sempat menikmati film-film sang Raja Monster ini, baik versi Jepang dan Hollywood, sefuturistiknya itu ya ketika munculnya Mechagodzilla. Ketika manusia udah ketemu dua ras alien di anime ini, sebenernya buat saya sedikti aneh ya. But that’s okay

Baca Juga : Musuh-musuh Terkuat Godzilla Sejak Pertama Kali Tayang Pada 1954

Godzilla yang kecil aja udah gede, apa kabar yang “Sebenernya”. (doc. Netflix & Toho Animation)

Soalnya memang untuk melihat sesuatu yang lebih fresh, perlu hal yang gila juga. Saya pun penasaran gimana jadinya kalau para alien ini membantu manusia mengalahkan Godzilla. Apalagi Mechagodzilla di anime ini nanti dibuat oleh Bilusaludo dan penampakannya sih kayak senjata alien banget. Saya ngarepnya bisa sedikit mirip sama Mechagodzilla jaman dulu sih.

In the end, this anime is worth to watch. Kamu yang udah nonton bagian pertama ini harus bersabar sampai Mei nanti untuk melanjutkan ke Godzilla: The City Mechanized for the Final Battle. Siap guys?

Summary
Godzilla: Planet of the Monsters ini bener-bener sajian Godzilla yang fresh and beyond my imagination. It's really entertaining dan kamu bakal melihat King of Destruction yang sangat "gila", mulai dari kekuatannya sampai ukurannya. Bener-bener menghibur dan kamu harus nonton!
Good
  • Aksi yang ciamik
  • CG yang menawan dan bikin trilogi anime Godzilla ini fresh
  • Godzillanya bener-bener gila, gede banget dan sangat kuat
  • Nggak banyak cincong ketika sedang beraksi melawan Godzilla
Bad
  • Scoringnya nggak greget, jadi suasananya jadi kurang terbangun
  • Dramanya jadi nggak dapet karena scoring yang kurang
  • Terlalu futuristik sih
8
Great
Written by
I'm just a man who likes playing a game, watching movies, tv series, Dragon Ball, Digimon, Attack on Titan, and Kamen Rider.

Is the Story Interesting?

1 0