Master Z: The Ip Man Legacy – Review: Koreografi Apik dengan Humor Segar

User Rating: 7

Hong Kong tak letih-letihnya terus memproduksi film laga bela diri yang terus menembus pasar internasional. Mungkin berpuluh-puluh judul telah lahir dari industri perfilman kota ini. Darinya pun telah lahir aktor-aktor laga legendaris dari Bruce Lee hingga Donnie Yen. Di penghujung tahun ini pun kembali hadir sebuah film laga bertema bela diri Wing Chun, sebuah aliran bela diri Kung Fu dari Cina Selatan: Master Z: The Ip Man Legacy.

Kamu mungkin sudah nggak asing lagi mendengar kata Ip Man, film biopik laga asal Hong Kong yang mempromosikan seni bela diri dengan trilogi filmnya yang terbilang sukses. Lantas, apa sih bedanya trilogi Ip Man dengan Master Z: The Ip Man Legacy ini? Lalu, bukannya baru April lalu diumumkan film keempat IP Man karya sineas Wilson Yep yang menggarap trilogi film sebelumnya?

Yes, bisa dibilang film ini memiliki sedikit kesinambungan dengan trilogi film sebelumnya atau bahkan film keempat yang akan datang. Master Z: The Ip Man Legacy merupakan spin-off dari trilogi Ip Man, karya  sineas Yuen Woo-Ping, di mana ternyata ia merupakan koreografer dari IP Man 3 (2015), Kung Fu Hustle (2004) dan The Matrix Trilogy (1999-2003). Master Z: The IP Man Legacy juga bukan pertama kalinya ia terjun menjadi seorang sutradara film laga. Film ini juga ditulis oleh orang yang sama dengan yang menulis trilogi Ip Man sebelumnya, yakni Edmond Wong.

Master Z: The IP Man Legacy bercerita mengenai kehidupan Cheung Tin Chi (Max Zhang), paska dikalahankan oleh IP Man difilm IP Man 3. Ia memilih untuk menikmati hidup barunya yang sederhana dengan tenang, jauh dari kekacauan, sambil membuka usaha toko kecil-kecilan. Ketenenangan itu sirna ketika bertemu dengan Julia (Liu Yan) dan Nana (Crissie Chau) yang tengah dikejar oleh Kit (Kevin Cheng), si pengedar narkoba yang kemudian terafiliasi dengan businessman asal Amerika, Owen Davidson yang diperankan oleh pentolan WWE, Dave Bautista.

Sedari awal, kamu sudah disajikan penggambaran dari sudut pandang keluarga sederhana kelas menengah di  kota Hong Kong yang membuat perasaan saya sedikit terenyuh. Terlebih drama keluarga sehari-hari antara Tin Chi dan anak semata wayangnya yang mungkin juga begitu relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Pembawaan filmnya pun tidak terlalu berat seperti film laga kebanyakan, bahkan terasa humor-humornya cukup segar, cocok untuk kamu yang ingin menonton film laga tapi tidak ingin terlalu berat.

Baca juga: The Night Comes for Us – Review : Brutal Bersimbah Darah!

Salah satu adegan pertarungan yang terbilang seru juga adalah saat Max Zhang bertarung melawan Dave Bautista. Perbedaan ukuran tubuh dan gaya bertarung yang sangat berbeda menjadi salah satu penyebab kesulitan yang menyebabkan adegan ini terasa begitu exiting.

Tetapi bukan berarti kamu boleh mengajak anak kecil menonton film laga ini. Adegan tarungnya yang intens membuat kamu deg-degan sekaligus sedikit ngeri memang terbilang sangat seru dan begitu entertaining. Namun, hal tersebut tentu diiringi dengan beberapa adegan yang terbilang sadis.

Sayang, dengan koreografi pertempuran yang apik, film yang diproduseri oleh aktor pemeran IP Man a.k.a Donnie Yen ini terasa kurang smooth efek filmnya, terlebih ketika adegan jatuh sehabis dihajar, terlempar, atau ketika tersangkut.

Secara keseluruhan, eksekusi pada film ini sudah cukup baik dan begitu menghibur. Penulisan ceritanya terbilang cukup rapih dengan konflik dan resolusi yang simpel namun jelas. Pembangunan karakter pun sudah pas. Namun, rasanya dalam film ini Max Zhang bisa lebih mendapat spotlight daripada hidup dalam bayang-bayang Donnie Yen yang identik dengan nama Ip Man-nya. Kini ia bukan lagi sekadar pemain latar seperti pada Ip Man 3.

Meski begitu, tetap ada beberapa yang sedikit mengganjal, Joyfriends. Misalnya aja seperti anak Tin Chi yang tiba-tiba menghilang di tengah cerita, tapi kemudian muncul lagi. Lalu momen pertemuan dengan Julia saat rumah Tin Chi tengah diserang pun terkesan sedikit tidak natural. Narasi perseteruan antara penduduk lokal dan orang kolonial pun digaungkan dengan keras pada film ini.

Summary
Master Z: The Ip Man Legacy ini cocok untuk kamu yang ingin film laga yang begitu menghibur dengan koreografi yang apik serta humor segar, JoyFriends. Film berdurasi 107 menit ini juga sedikit membuat kamu terobati rasa penasarannya dengan kelanjutan film yang akan datang: Ip Man 4.
Good
  • Koreografi pertarungan
  • Adegan aksi yang fun dan entertaining
  • Humor yang pas
  • Kisah yang tidak terlalu berat
Bad
  • Efek visual nggak rapi
  • Ada beberapa tokoh yang kemunculannya mengganjal
7
Good
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>