Justice League – Review: Secercah Cahaya Untuk DCEU

User Rating: 8
Justice League
Penasaran kayak gimana film Justice League? Langsung aja guys ke bioskop abis baca review ini, hehehe... (doc. Justice League Movie/DC/Warner Bros.)

Setelah menghasilkan Batman v Superman: Dawn of Justice yang tayang awal 2016 lalu, sutradara Zack Snyder kembali dengan film DC Comics paling ditunggu-tunggu sepanjang sejarah, Justice League! Film kelompok superhero DC ini dinilai akan menjadi jawaban bagi orang-orang yang skeptis dengan usaha DC dan Warner Bros. membuat DC Extended Universe. Terlebih lagi tiga film pertama DCEU; Man of Steel, BvS, dan Suicide Squad bisa dibilang nggak mendapat respon positif dari publik.

Secercah cahaya baru menyinari DCEU setelah Wonder Woman yang dibintangi Gal Gadot dan Chris Pine yang tayang Mei kemarin mendapat sambutan luar biasa. Tapi ternyata kesuksesan itu justru makin bikin orang bertanya-tanya, bisakah Zack Snyder dan Justice League meneruskan kesuksesan tersebut?

Kamu nggak akan boring kayak nonton BvS guys di film Justice League ini (doc. DC Comics)

Jawaban saya: Bisa. Zack Snyder bener-bener berhasil membuat film ini lebih “light” dan fun tanpa mengurangi intensitas cerita seperti yang ia tampilkan dalam Man of Steel dan BvS. Beberapa kritikus luar yang udah menonton film ini pekan lalu bahkan menilai film ini adalah film Zack Snyder yang paling ”light”.

Nggak kayak Man of Steel dan BvS, kali ini Snyder lebih berani untuk memasukkan humor; aspek yang selalu dikritisi sejak proyek DCEU ini dimulai. Penempatan jokes dalam film ini pun menurut saya cukup cerdas dan tepat, nggak muncul di momen yang salah; saat momen serius ya serius. Humornya pun nggak semata ditunjukkan dengan jokes terang-terangan, banyak momen di mana suasana lucu itu terbangun dari ekspresi para cast atau sekadar kata-kata sambil lalu.

Barry Allen alias The Flash yang diperankan oleh Ezra Miller pun sukses mencuri perhatian penonton, terutama karena porsi humor dalam film ini hampir seluruhnya berfokus pada sang speedster. Kayak yang udah saya duga sebelumnya, walaupun dalam film ini The Flash yang muncul adalah Barry Allen, sifat yang ditampilkan oleh Miller lebih mirip dengan Wally West, sang The Flash ketiga di dalam komik. Muda, humoris, energik, dan perlu makan banyak buat mengimbangi metabolisme tubuhnya yang cepat.

Sementara itu Cyborg yang diperankan Ray Fisher walaupun memegang peran penting dalam film ini, menurut saya karakternya masih bisa dieksplor lebih jauh. Hubungan Cyborg dan The Flash dalam DCEU ini akan sangat menarik kalau diperdalam, mengingat dua orang ini adalah member termuda dan paling nggak berpengalaman dibanding hero lainnya. Momen antara kedua superhero muda ini sebenarnya udah ada dalam Justice League, tapi masih terlalu singkat.

Penampilan Jason Momoa sebagai Aquaman juga sukses memberikan gambaran baru soal sang Raja Atlantis. Dari pirang, ganteng dalam komik jadi gondrong, sangar, dan urakan. Bahkan, “urakan” mungkin kata yang tepat buat menggambarkan Aquaman versi DCEU ini. Mulai dari sikap sampai gaya bertarungnya, semuanya bener-bener semaunya sendiri.

Justice League ini juga kembali mengingatkan para penonton bahwa selain Batman dan Wonder Woman, semua superhero dalam DC Extended Universe bener-bener baru memulai perjalanan mereka sebagai pahlawan. Malah bisa dibilang, mereka baru memulai perjalanan mereka untuk menjadi karakter yang kita kenal. Barry dalam film ini belum menjadi CSI, Victor baru aja jadi Cyborg dan belum menguasai kemampuannya, dan Arthur bahkan belum menjadi Raja Atlantis.

Filmnya terlalu singkat!

Nah, kekurangan dalam film ini adalah: TERLALU SINGKAT! 120 menit nggak cukup buat memberikan porsi yang setara buat keenam hero ini. Build-up cerita di awal pun akhirnya terkesan terburu-buru, padahal kalau lebih “pelan” sedikit, penonton (terutama penonton kasual) bisa mendapatkan pemahaman lebih dalam soal konflik dalam film ini.

Hal itu diperparah dengan kebiasaan Snyder membuat film dengan perpindahan scene yang cepat; hal yang juga dikritisi habis-habisan dalam BvS. Buat yang nggak terbiasa nonton film-film Zack Snyder, perpindahan scene yang cepat ini pasti rada ngeganggu. Pasalnya, jadi terkesan satu scene itu ceritanya belum selesai, tapi tahu-tahu udah pindah lagi ke scene berikutnya.

Kami sih merekomendasikan nonton film Justice League di IMAX guys! (doc. Warner Bros.)

Selain itu, walaupun film ini emang fun, saya rasa Snyder dan timnya berusaha terlalu keras untuk membuat film ini lebih menyenangkan. Dalam hal ini adalah membuat Bruce Wayne/Batman menjadi fun. Batman dalam film ini justru terkesan seperti Tony Stark yang suka mengeluarkan komen-komen sarkas, porsi dia dalam momen-momen lucu pun kelewat banyak.

Jujur aja, pesona Batman yang muncul dalam BvS bisa dibilang hilang dalam  Justice League ini. Padahal Batman dalam BvS itu adalah portrayal Batman termirip dengan komiknya dan hal tersebut mungkin salah satu dari sedikit hal positif yang ada dalam BvS.

Oh iya, ada dua after credits ya di film ini, jadi jangan langsung cabut begitu film selesai! Penasaran after credit-nya apa? Hint: yang pertama keren, yang kedua lebih keren lagi, hehehe… Pokoknya duduk di kursi sampai semuanya selesai, dijamin kamu nggak bakal nyesel!

Summary
Film Justice League ini bisa dibilang lebih baik dari Batman v Superman : Dawn of Justice, tapi nggak lebih baik dari Wonder Woman. Dan kalau nggak terbiasa sama film-film Zack Snyder yang perpindahan scenenya cepat, baiknya sih dibiasain. Karena mungkin Justice League ini jadi film DCEU yang memberikan kebaikan ke depannya.
Good
  • Snyder sukses bikin cerita yang fun dan light, tapi tetep intens
  • Humornya pas, nggak berlebihan dan dimunculkan dalam momen yang tepat
  • Penampilan Ezra Miller sebagai The Flash bener-bener kece!
  • Jadi basic yang oke buat DCEU ke depannya
Bad
  • Durasi terlalu singkat
  • Perpindahan scene terlalu cepat, terutama di awal
  • Batman jadi terlalu light
8
Great
Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

3 1