Rahasia di Balik Elemen Budaya Raya and the Last Dragon

Raya and the Last Dragon
© 2020 Disney. All Rights Reserved.

Raya and the Last Dragon, menjadi film animasi rilisan terbaru Disney yang lain dari yang lain. Kali ini, Disney mengambil latar budaya dan alam dari Asia Tenggara, dan disulap menjadi negeri fantasi yang penuh aksi dan petualangan.

Nama negeri fantasi tersebut adalah Kumandra, sebuah dunia dimana penduduknya hidup dalam sungai yang melambangkan bagian-bagian tubuh naga. Jaman dahulu, naga-naga hidup bersama manusia, namun mereka mengorbankan diri untuk mengalahkan arwah jahat yang mengancam Kumandra.

Bertahun-tahun setelahnya, arwah jahat itu kembali mengusik kedamaian Kumandra. Berhadapan dengan perpecahan para suku, dan ketidakmampuan manusia melindungi diri sendiri. Raya, berpetualang untuk mencari naga terakhir dan kembali membawa persatuan ke tanah Kumandra.

Membawa Berbagai Konsultan Budaya Dalam Tim Produksi

Tim produksi Raya and the Last Dragon melakukan perjalanan ke berbagai negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Laos, Thailand, Vietnam, Kamboja, Malaysia dan Singapura. Budaya dari masing-masing kultur tersebut akan hadir dalam bentuk suku-suku berbeda yang menghuni Kumandra.

Untuk memastikan akuratnya aspek budaya, staff produksi menghadirkan konsultan, termasuk untuk budaya indonesia.

Dewa Berata, musisi asal Bali, serta Emiko Susilo, Voice Actress yang juga berasal dari Bali. Ikut memiliki andil dalam pembuatan Raya and the Last Dragon.

Carlos Lopez Estrada, sang sutradara, mengatakan bahwa, “Walaupun Kumandra adalah dunia fantasi, kami merancang Kumandra sebagai tempat yang dinamis dan menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat asia tenggara.”

“Kami ingin memberi penghormatan terhadap budaya yang menginspirasi cerita dan dunia ini.” Lanjutnya.

Selain konsultan, ada juga staff asli Indonesia yang turut bekerja dalam pembuatan film. Griselda Sastrawinata, merupakan visual development artist yang ikut membantu penggambaran visual film bersama Luis Logam, sang story artist.

Menggambarkan Persatuan Dalam Perbedaan

Asia Tenggara memiliki berbagai macam suku dan budaya yang berbeda-beda. Hal ini menjadi salah satu aspek cerita dimana ‘walau banyak dan berbeda, dengan bersatu, kita akan sama kuatnya’.

Raya, seorang pejuang perempuan, berpikir bahwa dengan menemukan naga terakhir, semua masalah dapat diselesaikan. Akan tetapi selama perjalanan, ia akan menyadari bahwa kekuatan sejati ada pada persatuan antar suku Kumandra.

“Kami harap, film ini dapat benar-benar memperlihatkan pentingnya nilai gotong-royong, kebersamaan, dan saling percaya,” ungkap Osnat Shurer, sang produser.

Untuk saat ini, Raya and the Last Dragon tayang eksklusif di Bioskop.

Cek lebih banyak lagi artikel bergizi seputar pop culture atau tulisan menarik lainnya dari Leo Agung. Follow juga Facebook dan Instagram Joypixel!

Written by
Pencari gem anime terbaik setiap season, cita-citanya yang paling besar adalah jadi karakter OP di seri isekai.

Is the Story Interesting?

0 0