WandaVision Early Review: Berbeda, Fresh, dan Kocak!

User Rating: 9

Sejujurnya, saya sempet was-was karena udah lama nggak nonton film-film Marvel; apa saya harus nonton ulang semua film Marvel untuk ngerti series WandaVision ini? Soalnya, ekspektasi saya akan seperti sinopsisnya, kelanjutan dari Avengers: End Game. Di kepala saya, ya akan jadi seperti tipikal film superhero Marvel pada umumnya, meski berita yang terus beredar adalah akan ada nuansa komedi yang kental, seperti sitkom-sitkom zaman dulu. 

Tapi setelah nonton tiga episode pertama, pendapat saya salah semua. Pembuka series dari Phaser Four Marvel Cinematic Universe ini bener-bener beda. Bener-bener epik! Saya salut dengan sang penulis naskah, Jac Schaeffer, dengan karya yang brilliannya ini.
Meski pada tanggal 15 Januari 2021 baru dirilis dua episode, JoyPixel dan rekan-rekan media lain kebetulan berkesempatan menonton tiga episode pertama. Kesimpulan yang saya dapet dari tiga episode ini juga mungkin akan ngaruh ke tujuh episode ke depan yang akan rilis setiap minggunya. Karena semuanya adalah mengenai impresi pertama. Meski ya, ini bukan kesimpulan atau ulasan dari keseluruhan episode, melainkan hanya tiga, tapi ngaruh lho ke gimana caranya kamu untuk tertarik nonton series ini.

KOCAK!

(doc. Disney+ Hotstar Indonesia)

Ini kesan pertama ketika nonton series ini. Bukannya serius-serius ala film superhero Marvel, tapi malah kocak banget! Kental dengan sitkom tahun 1960-an, WandaVision berhasil ngasih kesan kehidupan paska event besar seperti pada Avengers: End Game dengan balutan komedi. Ya, kayak yang udah dibilang di atas, unsur sitkom-nya ini kental banget di tiga episode pertama yang pas banget dan nggak garing. Penggambaran kesulitan-kesulitan yang pasangan Wanda Maximoff yang dibintangi oleh Elizabeth Olsen dan Vision oleh Paul Bettany ini dibalut dengan lawakan seakan-akan kamu lagi nonton sitkom.

TONE DAN SINEMATOGRAFI YANG ASIK!

WandaVision
(doc. Disney+ Hotstar Indonesia)

Ini juga menurut saya salah satu yang keren di series ini. Tone-nya bisa banget mengimitasi tone yang hadir pada film-film atau sitkom pada tahun 80-an. Plus, seperti yang ada di-trailer, film ini ada saatnya menggunakan warna hitam-putih, kemudian berevolusi menjadi video yang berwarna-warna. Belum lagi dukungan dari wardrobe serta scoring music yang mendukung kesan hidup di tahun-tahun itu. Mungkin kamu ada yang males juga nonton dengan tone jadul gini kesannya. Tapi tenang aja, tone-nya tetep bisa dinikmatin kok.

Meski tone-nya terkesan zaman dulu gitu, tapi efek-efek yang dipake tetep modern kok. Sinematografinya pun masih terkesan modern. Salah satu yang saya suka itu waktu transisi dari hitam-putih ke warna-warni.

BERANI MELAKUKAN SESUATU YANG BEDA BANGET!

WandaVision
(doc. Disney+ Hotstar Indonesia)

Tiga episode pertama kamu emang bakal disuguhin drama kehidupan superhero yang ingin keliatan normal dengan balutan sitkom yang bikin nikmatinnya tuh bisa disegala mood. Nah, Elizabeth Olsen dan Paul Bettany ini bisa banget ngasih kesan yang berbeda dengan yang biasanya pada film-film Marvel, tapi tanpa ngilangin kemiripan dengan film-film sebelumnya. Bener-bener eksperimen yang beda banget dengan karakter yang sama.

Tiga episode ini aja udah gabungin antara komedi, drama, romansa, sedikit misteri, dan sedikit tentang kekuatan superheronya. Uniknya lagi adalah durasi setiap acara yang nyaris berbeda-beda. Di episode satu misalnya, WandaVision ini hanya berdurasi sekitar 25-30 menit, persis seperti sitkom-sitkom televisi. Udah gitu treatment setiap episodenya cukup berbeda, dan selalu ngasih suatu clue yang baru. Kira-kira apaan sih? Nonton aja, JoyFriends! Intinya, Marvel di sini berhasil bikin sesuatu yang beda, berhasil dengan eksperimennya. Saya aja nggak nyangka kalau ini adalah series Marvel!

FINAL VERDICT

WandaVision
(doc. Disney+ Hotstar Indonesia)

Pada dasarnya, apa yang saya tonton bukanlah suatu karya yang utuh, yang seharusnya dinilai keseluruhan rangkaian karyanya. Tapi apa daya, setiap episodenya rilis setiap minggunya, dan JoyPixel berkesempatan untuk nonton episodenya lebih dulu dan first impression itu penting, jadilah tulisan ini dibuat.

Dalam tiga episode pertama, Marvel udah ngelakuin sesuatu yang luar biasa menurut saya. Premis cerita yang dihadirkan cukup simpel sebenernya, tapi eksekusinya bukan main-main. Eksperimen Marvel melalui serial ini berhasil menurut saya. Beragam genre dilahap dengan sangat baik. Sitkomnya lucu dan menghibur, drama-drama romantisnya begitu menyentuh, kemudian perubahan-perubahan setiap episodenya begitu menarik. 

Jujur, saya sendiri paling suka saat seluruh tone-nya ini berada di sekitar tahun 50-an dan 60-an. Komedinya kerasa klasik banget, Elizabeth dan Paul juga bisa langsung nyesuain dengan perubahan-perubahan yang hadir di setiap episodenya, belum lagi kalo ngomongin tone, scoring, dan wardrobe yang super niat. Ya nggak salah sih, satu episodenya aja udah berbudget kurang lebih $25 juta dollar, atau sekitar 350 milliar rupiah.

Intinya, series WandaVision ini wajib banget kamu tonton hanya di Disney+ Hotstar Indonesia! 

Cek lebih banyak asupan informasi bergizi seputar pop culture atau tulisan menarik lainnya dari Muhammad Iman Ramadhan. Jangan lupa juga kunjungi FacebookTwitterInstagram, dan YouTube JoyPixel!

Summary
WandaVision ini terbilang berhasil dengan hasil eksperimen uniknya ini. Fresh, berbeda dengan apa yang ditampilkan film-film Marvel sebelumnya.
Good
  • Kocak!
  • Nampilin sesuatu yang beda!
  • Perubahan setiap episode yang sangat baik,
  • Elemen sitkom yang keren!
  • Tone dan sinematografi yang asik!
  • Wardrobe unik dan otentik,
  • Scoring yang apik!
Bad
  • Kurang aksi di tiga episode pertama,
  • Nggak semua pecinta Marvel ingin sesuatu formula yang berbeda.
9
Amazing
Pemain bass di sonicwaves | Gemar memotret | Menulis di JoyPixel dan blog pribadi | Demen musik, film, series, game, komik, gadget dan banyak hal lainnya, makannya cocok kan di JoyPixel.

Is the Story Interesting?

0 0