Drama Babak Baru Perseteruan H&M dan Street Artist

Kadang kalau nama udah gede, suka lupa sih.

Kayaknya drama dari fashion brand H&M masih belum habis. Setelah kemarin iklan rasisnya yang bikin The Weeknd nyabut kerjasama (yang kita bahas di sini),  drama babak baru baru aja dimulai. Kali ini, drama H&M terkait dengan hak cipta, khususnya ke graffiti artist.

Belum lama ini, seperti dilansir Metro, H&M dianggap melakukan pelanggaran hak cipta karena sportwear line-nya yang baru New Routine. Masalahnya, foto campaign ini di depan graffiti karya Jason ‘Revok’ Williams. Graffiti-nya sendiri terletak di William Sheridan Playground, Williamsburg, Brooklyn. Menurut HypeBeast, Revok udah mengajukan cease and desist letter ke H&M soal penggunaan karya aslinya secara illegal dan membuat persepsi bahwa ada kerjasama antara Revok dan H&M.

Menanggapi hal tersebut, H&M menembak balik Jason dengan statement ‘karya seni’ Revok sebenarnya adalah produk dari tindakan kriminal (vandalisme) dan Revok dianggap nggak punya hak cipta.

Untuk hak cipta para graffiti sebenarnya masih menjadi perdebatan –  tapi apapun bentuknya, yang namanya karya seni nggak bisa diremehin gitu aja. Kalau mau diumpamakan di Inggris, hak cipta memang punya pembuat graffiti. Berbeda dengan pemilik bangunan yang jadi ‘kanvas’ pembuat graffiti, sehingga pemilik gedung memiliki hak untuk menghapus atau membiarkan gambar. Tapi, jika kondisinya diposisikan dalam kasus H&M, si fotografer menggunakan  karya graffiti untuk keuntungan komersil – jadi ya pembuat graffiti pun jadi punya hak bagian dari komersil tersebut – bahasa gampangnya gitu.

Sayangnya, nggak demikian dengan hukum di Amerika Serikat. Undang-undang setempat nggak melindungi ‘pekerjaan yang diklasifikasikan secara illegal’. Jadi, dari Departemen Kepolisian Kota New York pun mengkonfirmasi bahwa graffiti di dinding taman handball itu dianggap vandalisme dan pengerusakan terhadap properti kota New York. Jadi ya, terang aja seniman jalanan menyuarakan boikot untuk H&M demi mendukung Revok.

Sebenarnya, nggak bisa nyalahin Revok juga sih. I mean, emang bener kalo graffiti tindakan kriminal, tapi H&M juga nggak bisa seenaknya menggunakan karya orang gitu aja (tentunya tanpa memberikan loyalty yang pantas kepada kreator). Mungkin, dari kasus Revok ini waktunya street artist mulai mempertimbangkan proteksi kepada karya mereka – terutama di jalanan.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>