Green Day – Father of All.. — Album Review: Berbeda, Fresh, Fun, dan Komersil!

User Rating: 8
Artwork cover album Father of All.. (Source: Pitchfork)

Selang tiga tahun paska rilis album Revolution Radio pada 2016 silam, band rock alternatif asal California yang digawangi Billie Joe Armstrong (gitar, vokal), Mike Dirnt (bass, vokal latar), Tre Cool (drum) ini kembali merilis album teranyarnya yang bertajuk ‘Father of All…’, seenggaknya itu lah tajuk versi sensornya.

Tak dapat dipungkiri, trio rock alternatif ini banyak memberi pengaruh kepada industri musik, menjadikan Green Day sebagai salah satu band legendaris yang masih terus berkarya sampai saat ini; meski sempat dijauhi oleh skena punk di Gilman Street karena Green Day memasuki label mayor. Ketika mendengar nama Green Day, kalian mungkin langsung familiar dengan lagu-lagunya seperti Wake Me Up When September Ends, 21 Guns, American Idiot, Boulevard of Broken Dreams, When I Come Around, Basket Case, dan banyak lagu keren lainnya.

Bersamaan dengan dirilisnya satu persatu lagu yang dimulai dengan Father of All.., disusul oleh Fire, Ready, Aim, serta yang terakhir Oh Yeah!, Green Day juga menggelar tur besar bersama Fall Out Boy, dan Weezer, yang bertajuk Hella Mega Tour.

Kini banyak musisi rock mulai terbawa pengaruh, atau bereksplorasi di genre yang berbeda tetapi dipadukan dengan ciri khasnya masing-masing. Ada yang jadi keren, tetapi juga ada yang jadih meh. Menurut saya Green Day tidak masuk dalam kategori kedua. Kenapa? Yuk, ikuti saja ulasan saya berikut ini, JoyFriends!

APA YANG BERBEDA?

Green Day Photoshoot (Source: Rolling Stone)

Album ini terasa seperti campuran musik komersial televisi, musik rock 80-an, rock ‘n roll, sedikit unsur halu psychedelic, serta pop rock. Rock alternatif-nya pun masih sangat terasa; Lebih ‘soft’ dibanding album terdahulunya Revolution Radio, pun lebih fresh dan agresif di bidang lainnya, meski tidak ‘straightforward’ seperti yang mereka lakukan di album-album sebelumnya. Ini lebih lepas, banyak variasi sound dan aransemen. Lagu-lagunya juga terasa antemik.

Tone gitar Billie Joe terasa fresh dan berbeda dengan sound sebelumnya; jauh lebih bervariasi, tidak semuanya distorsi ataupun overdrive dengan sound yang sama, tetapi tetap terdengar ciri khas Green Day yang tidak luntur. Vokal Billie pun seperti keluar dari zona nyaman. Billie mulai menggunakan teknik seperti falsetto yang di album sebelumnya jarang ia gunakan. Secara permainan gitar pun Billie terus berkembang. Akhirnya, di album Father of All ini, mereka punya

Permainan bassnya terdengar lebih dominan dan agresif di album ini. Mike Dirnt banyak memainkan walking bass, tidak seperti beberapa album ke belakang (kecuali beberapa lagu dalam album Warning dan iDos! dari album Trilogi). Lagunya jadi lebih terisi dan padat tanpa terasa berlebihan. Kalau Dookie mengandalkan bassline ikonik yang simpel, lagu-lagu di album Father of All.. ini jauh lebih kompleks. Mike Dirnt juga terasa mulai banyak menggunakan efek bass dibanding sebelumnya. Karakter bassnya pun terasa beda, yang biasanya tone growl a la Fender Precision Signature miliknya, kini lebih terasa mid khas-nya Rickenbacker. Yang ini sih sebenernya sependengaran saya aja yah, JoyFriends.

Pattern drum milik Tre Cool juga terasa berbeda, nggak hanya sesimpel memainkan hi-hat, snare, bass drum, ataupun crash symbal seperti biasanya. Kali ini Tre Cool terasa lebih bereksperimen dengan variasi-variasi. Entah dari segi sound atau permainannya juga.

Secara lirik menurut saya identik dengan kesan hura-hura, pesta, semangat serta kenakalan masa muda, identik dengan lirik-lirik pada album iDos!. Billie memang bukan penulis lirik terbaik, tapi setidaknya ia pernah menuliskan lirik-lirik masterpiece seperti pada album American Idiot dan 21st Century Breakdown. Bahkan, di album Revolution Radio pun banyak lagu dengan lirik yang sangat mendalam dan berkesan seperti pada lagu Outlaws.

Yuk, sekarang kita bedah lagu perlagu-nya, JoyFriends!

MUSIK!

(Source: reddit.com)

Beberapa lagunya berdurasi hanya sekitar 2-3 menit; mengingatkan saya akan musik The Beatles terdahulu. Singkat dan fun. Total durasinya pun kurang lebih 26:16 menit yang berisikan 10 lagu, hampir beda 20 menit dari total durasi album Revolution Radio yang berdurasi 44:29 menit.

Dibuka dengan meriah pada lagu ‘Father of All..’, distorsi gitar Billie terasa cukup dominan dan dentuman drumnya Tre Cool pun cukup cepat. Sound drumnya seperti berbeda, entah dari mixing-nya atau menggunakan semacam efek. Vokal Billie juga mayoritas menggunakan falsetto. Banyak kejutan-kejutan lucu dari bagian gitar, tetapi sebenarnya menurut saya yang paling mengejutkan adalah bass-nya Mike Dirnt yang agresif. Saat pertama saya mendengarkan, lagunya terasa cocok untuk jadi lagu komersial handphone di televisi. Nuansanya pun terasa antemik; cocok jadi pembuka album ini, karena masih memadukan sound Green Day yang lama dengan arah yang ingin dituju pada album ini.

Arah sound yang ingin dituju ini semakin diperkuat oleh dua lagu setelahnya, Fire, Ready, Aim, dan Oh Yeah!. Pada Fire, Ready, Aim, hampir memiliki formula yang sama dengan ‘Father of All…’, musik alternative rock yang agak cepat, nge-pop dan antemik. Sayang tidak memiliki bass yang agresif seperti lagu sebelumnya.

Oh Yeah! membuat saya kaget dengan perubahan yang lebih drastis saat pertama kali dirilis. Green Day mencoba meracik musiknya dengan sedikit entah dengan sedikit synthesizer, pattern drum yang berbeda, bassline yang mengisi lagu, serta kesan antemik yang makin terasa. Musiknya juga nggak secepet dua lagu tadi yang terlebih dahulu dirilis; lebih pelan, lebih halus, dan lebih terasa komersial handphone di televisi. Pattern drum-nya mengingatkan saya dengan lagu Ticket to Ride-nya The Beatles.

Suasananya masih terasa mirip di lagu Meet Me on the Roof yang dibuka dengan overdrive gitar yang crunchy dan punchy. Lagunya terasa santai dan tight, kental dengan pengaruh rock ‘n roll di bagian solonya, serta suara kecrekan membuat lagu ini bernuansa cukup bahagia, sedikit mengingatkan saya tentang musik country dan suasana pedesaan.

I Was a Teenage Teenager dibuka dengan tone bass yang ‘tight’, progresi chord yang a la Green Day, serta sedikit dimasukan synthesizer yang lebih dominan. Lagunya seperti lagu yang mengenang, dan kalau kamu lagi di perjalanan menuju pedesaan lagu ini rasanya cocok untuk menemani perjalanan kamu.

Dilanjutkan dengan Stab You In the Heart, secara scale yang dimainkan, lagu ini mirip sekali dengan lagu F**k Time dari album iDos! terdahulu. Itu juga merupakan lagu ádaptasi’ dari side project milik Green Day lainnya, Foxboro Hot Tubs. Lagu yang mungkin paling skillfull di album ini, musik rock ‘n roll banget.

Kalau banyak lagu di atas menurut kamu nggak kerasa Green Day banget, lagu Sugar Youth ini masih kerasa banget nuansa album Revolution Radio-nya. Saya suka banget tone gitarnya Billie, serta drive bass yang digunakan Mike Dirnt pada lagu ini, dua hal yang menjadi pembeda lagu ini dengan lagu-lagu di album sebelumnya. Selebihnya mirip dengan lagu lama mereka, termasuk isi-isian gitarnya serta pattern drum milik Tre Cool. Pokoknya ini lagu yang Green Day banget, deh.

Lagu selanjutnya adalah lagu favorit saya, dan mungkin paling berbeda dari lagu Green Day kebanyakan. Junkies on a High, riff gitar dan tone Billie Joe, bassline Mike Dirnt, pattern drum Tre Cool yang sedikit ngetrap membawa nuansa halu a la musik psychedelic. Berasa chill banget. Ada beberapa kejutan saat mendengarkannya, termasuk efek chorus bass yang membuat saya takjub. Akhirnya Green Day memiliki riff gitar yang berbeda juga; sedikit mengingatkan saya tentang Arctic Monkeys.

Efek delay echo pada intro, bass, drum, serta backsound lo-fi kresek-kresek pada lagu Take the Money and Crawl, membuat saya teringat dengan musik blues tahun 80-an. Kemudian langsung dihajar dengan distorsi serta hentakan drum, ini mungkin lagu kedua yang Green Day banget, dengan sedikit racikan beda pada sentuhan vokal Billie, fuzz atau bass synth.

Album ini ditutup dengan bass serta drum yang memulai lagu Graffitia, dengan mayoritas tone gitar dan bassnya lebih kasar daripada beberapa lagu sebelumnya. Ada yang pakai overdrive, fuzz, berbeda dari sebelumnya yang di mana Billie pasti hanya menggunakan satu jenis drive pada lagu di album lainnya. Begitu pula dengan Mike Dirnt; isian bassnya luar biasa, nggak asal dan tahu tempat. Variasi sound keyboard-nya juga lebih banyak. Vokal Billie juga dikenakan reverb seperti berada di ruang kosong di beberapa part. Bagian outro-nya saya merasa Billie sedikit terinspirasi musik funk dan britpop. Lagu ini berhasil menutup album ini dengan dinamika yang sedikit lebih kompleks dari lagu lainnya, JoyFriends.

KONKLUSI

(Source: Billboard)

Trio Billie Joe, Mike Dirnt, dan Tre Cool rasanya terlihat bosan dan ingin meninggalkan zona nyaman mereka dalam menulis sebuah lagu. Terlihat dari struktur lagu yang cukup berbeda dari lagu mereka yang strukturnya cenderung repetitif, durasi lagu yang lebih beragam, percampuran banyak jenis musik diracik dengan berbeda, meski bumbu Green Day-nya tetap terasa. Meski lagu Stab You In the Heart masih terasa sebuah recycle dari lagu F**k Time.

Para personilnya juga terasa lebih bereksplorasi bukan hanya pada jenis musik, tapi juga dari segi permainan dan sound. Seperti teknik vokal falsetto serta variasi tone gitar Billie Joe, akhirnya memiliki riff gitar, permainan bass yang lebih mengisi dan agresif, variasi tone bass yang lebih gahar, variasi pattern drum yang berbeda, serta sound drumnya yang megah, JoyFriends.

Keseluruhan lagu di album ini terasa fresh juga sangat fun. Meski dinamika lagu per lagu padat, tapi kamu nggak dikasih kendor. Kamu dikasih aura seneng-seneng terus selama sealbum, tanpa dibiarkan rehat dengan lagu-lagu bertempo pelan nan melankolis. Mungkin ini bukan masalah untuk banyak orang; tetapi menurut saya, kurasi lagu pada suatu album itu seperti satu runtutan cerita, setidaknya pada nuansa lagunya. Lagunya pun terkesan untuk komersial handphone di televisi. 

Kalau secara lirik, kurang lebih mirip dengan nuansa lirik album iDos! yang terkesan hura-hura pada pesta, karena mungkin memang tentang itulah album ini. Tapi, rasanya Billie juga punya batasan kreatif dalam membuat lirik. Liriknya kurang bercerita sedalam American Idiot, 21st Century Breakdown, bahkan album iTre!.

Secara keseluruhan, album ini oke secara eksplorasi, cukup easy listening, tetapi tetap mempertahankan ciri khas-nya.

Gimana JoyFriends menurut kamu album terbaru dari Green Day ini? Album Father of All… telah dirilis pada pada 7 Februari 2020 di platform streaming favorit kamu maupun dalam bentuk rilisan fisik, JoyFriends! Support band favorit kamu dengan mendengarkan yang original yah, karena biaya recording mahal, hehe.

Good
  • Akhirnya ada riff gitar!
  • Bass yang dominan dan agresif
  • Variasi drum Tre Cool
  • Tone gitar Billie Joe yang lebih berwarna dan megah
  • Eksplorasi vokal Billie Joe
  • Fresh and fun!
  • Colourful, satu album terasa seperti memiliki genre dan influence yang berbeda, dari Green Day album Dookie, hingga Revolution Radio kemarin
  • Green Day serasa keluar dari zona nyaman
Bad
  • Lagu Stab You In the Heart terasa recycling dari lagu terdahulu
  • Tidak memiliki lagu bertempo pelan dan melankolis, dinamikanya sedikit kurang
  • Secara lirik tidak sedalam American Idiot atau 21st Century Breakdown.
8
Great
Seorang mahasiswa yang hobinya kuliah sekaligus figuran di band @nextgentheband & @valdivieso_band | Gemar memotret di akun @ishoothem dan menulis gan

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.