UI Ethnovaganza 2018, Usaha Mahasiswa UI Memperkenalkan Budaya Indonesia

Para mahasiswa dari IMAPA UI mengaku bangga bisa menampilkan kebudayaan Papua di UI Ethnovaganza.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kebudayaan paling beragam di dunia. Dari 34 provinsi yang ada di negara ini, hampir tiap provinsi terdiri dari suku bangsa yang memiliki adat budayanya sendiri-sendiri. Namun, seberapa banyak sih dari kita yang mengenal seluruh budaya di Indonesia?

Itulah kenapa kemudian para mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) mengadakan sebuah festival budaya bertajuk UI Ethnovaganza. Berlangsung di Balairung Universitas Indonesia, acara tahunan ini pertama kali berlangsung pada tahun 2015 dan hari Minggu (7/10) lalu menjadi kali keempat UI Ethnovaganza diselenggarakan.

“UI Ethnovaganza adalah pagelaran budaya terbesar yang ada di Universitas Indonesia, di mana pesertanya adalah paguyuban (kelompok mahasiswa) nusantara yang ada di UI. Acara ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa budaya yang ada di UI, di Indonesia, tuh banyak dan kita bisa bertoleransi, bisa rukun,” ujar Arifa Setyaning Asri, Sekretaris UI Ethnovaganza 2018, saat kami temui di lokasi acara.

UI Ethnovaganza diikuti oleh 18 kelompok mahasiswa daerah, dari Aceh hingga Papua. Kelompok-kelompok mahasiswa ini menempati booth yang sudah disediakan oleh panitia. Mereka dibebaskan untuk menghias booth tersebut sesuai dengan konsep masing-masing. Menurut Arifa, pihak panitia juga memperbolehkan peserta untuk menjual pernak-pernik dan makanan atau cemilan khas daerah masing-masing pada para pengunjung.

Kelompok mahasiswa Gabungan Putra Putri Sulawesi Tenggara (Gapura) UI misalnya, mengusung tema “Tapak Tilas Kabupaten Buton”. Mereka menghias booth mereka dengan beberapa foto dan fun fact terkait Kabupaten Buton. Selain itu, tim Gapura UI juga menjual dua cemilan khas Sulawesi Tenggara: kacang mete dan baruasa, kue kering berbahan dasar kelapa.

Tahun 2018 ini merupakan kali kedua Gapura UI mengikuti pagelaran budaya ini, Joyfriends. Di tahun lalu, mereka mengusung tema terkait Suku Tolaki, salah satu suku di Sulawesi Tenggara. Menurut Anay, bendahara Gapura UI, mereka berencana memperkenalkan berbagai unsur kebudayaan yang ada di Sulawesi Tenggara secara bergiliran di tiap pagelaran UI Ethnovaganza.

“Kenapa kita (tahun ini) milihnya Buton, kita pengen menselaraskan semua budaya yang ada di Sulawesi Tenggara. Karena kami itu benar-benar banyak gitu lho budayanya yang ada di sana, adatnya itu beda-beda. Kami punya Buton, punya Wakatobi, Tolaki. Makanya kita ke depannya, kalau bisa ikut UI Ethnovaganza lagi, semua budayanya itu bisa kita angkat,” ujar Anay dengan antusias.

Anay sendiri menilai konsep acara UI Ethnovaganza tahun ini lebih asyik dibandingkan tahun lalu. Salah satu alasannya adalah persiapan yang dilakukan oleh panitia jauh lebih matang. Ia juga menyebutkan kalau antusiasme peserta pun jauh lebih tinggi dari tahun lalu.

Apresiasi pada panitia juga diberikan oleh Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) UI. Menurut anggota IMAPA UI Dylla Juaneth, UI Ethnovaganza membuka kesempatan bagi para peserta dan pengunjung untuk mengetahui budaya dari daerah-daerah yang berbeda. Hal tersebut pun diamini oleh rekannya, Naomi Heluka, yang menyebutkan bahwa mereka memiliki kebanggaan tersendiri bisa ikut memperkenalkan kebudayaan Papua di UI Ethnovaganza 2018.

Dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia

UI Ethnovaganza 2018 juga dimeriahkan dengan kehadiran Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Syedd Sadiq. Menurut penuturan Arifa, Syedd Sadiq datang ke UI Ethnovaganza dalam rangka ingin melihat kegiatan kepemudaan di Indonesia. Selain itu, ia juga baru saja menghadiri upacara pembukaan Asian Para Games 2018 di Senayan, Jakarta, sehari sebelumnya.

Sayangnya kehadiran Syedd Sadiq di UI Ethnovaganza nggak berlangsung lama, Joyfriends. Setelah menyaksikan pertunjukan dari beberapa paguyuban mahasiswa nusantara, ia berkesempatan untuk menyampaikan pidato sebelum kemudian bertolak ke rektorat UI untuk berdiskusi dengan berbagai perwakilan kelompok mahasiswa yang ada di Universitas Indonesia.

Dalam pidato tersebut, Syedd Sadiq mengungkapkan kekagumannya pada Presiden pertama kita, Soekarno. Menurutnya, Soekarno adalah salah satu sosok yang percaya pada anak muda, di mana suara anak muda diangkat dan dimartabatkan dalam dunia politik Indonesia kala itu. Ia juga memuji UI sebagai salah satu universitas tertua di Indonesia dan memiliki badan eksekutif mahasiswa yang kuat.

“Saya ingin belajar pada saudara sekalian. Saya hadir di UI ini, universitas yang paling tua dan berpengalaman, universitas yang dapat melahirkan berbagai jenis pemimpin dan tokoh dari Indonesia, dan universitas yang memiliki student council yang begitu kuat dan vibrant. Hal-hal inilah yang ingin saya lihat di Malaysia. Kami ingin mencapai hal tersebut, supaya nanti kita bisa bergerak maju bersama,” ujar menteri termuda sepanjang sejarah Malaysia tersebut.

Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>