Angel Has Fallen – Review: Dar Der Dor Klasik

User Rating: 6

Duo Gerard Butler dan Morgan Freeman kembali lagi ke layar lebar dalam film ketiga seri film Fallen, Angel Has Fallen. Film ketiga ini kembali mengisahkan aksi agen Secret Service Mike Banning (Butler). Namun, berbeda dengan dua film sebelumnya, alih-alih menjaga keselamatan Presiden Alan Trumbull (Freeman), Agen Banning harus menyelamatkan dirinya sendiri, JoyFriends!

Yup, dalam Angel Has Fallen, seperti biasa Mike Banning ditugaskan untuk menjaga keamanan Presiden Alan Trumbull. Berkat dedikasinya sebagai agen Secret Service, ia pun akan segera diangkat menjadi pemimpin badan pengamanan presiden tersebut dalam waktu dekat. Sayangnya, hal tersebut harus tertunda gara-gara serangan drone yang dilancarkan saat Presiden Trumbull sedang berlibur.

Serangan drone tersebut sukses membunuh semua orang yang ikut dalam rombongan presiden, kecuali Banning dan Trumbull sendiri. Keadaan makin memburuk ketika usai serangan itu, pihak Secret Service dan FBI menemukan serangkaian “bukti” yang menunjukkan bahwa Banning adalah dalang usaha pembunuhan tersebut. Tidak terima akan tuduhan ini, Banning pun memutuskan untuk kabur dan membersihkan namanya.

Dari sinopsis singkat tersebut, JoyFriends pun pasti bisa melihat kalau film ini mengangkat salah satu format klasik dalam film action: protagonis yang hebat, karir cemerlang, keluarga bahagia, personal trouble, difitnah, berjuang mengembalikan nama baik, selesai. Tentunya dengan banyak  peluru beterbangan dan ledakan terjadi di antara semua itu.

Format sederhana itu sebenarnya cukup untuk membuat film action apa pun (cukup) sukses atau setidaknya menarik ditonton. Sayangnya, hal tersebut nggak terjadi pada Angel Has Fallen. Film yang disutradarai oleh Ric Roman Waugh ini cenderung kopong. Cukup banyak celah di antara adegan aksi yang jatuhnya malah bikin agak bosan. Belum lagi update kondisi Banning yang terkesan sia-sia.

Jadi, di awal film digambarkan Banning yang sudah menua mulai merasakan efek dari aksinya di masa lalu. Tubuhnya sakit-sakitan dan dia pun kini ketergantungan pada obat penghilang rasa sakit. Sayangnya, pengenalan latar belakang ini terbilang lama dan berlebihan. Lebih parahnya lagi, kondisi tersebut seakan dilupakan begitu saja seiring film berjalan.

Sejak dia berhasil melarikan diri, hampir nggak diperlihatkan kalau tubuhnya udah nggak kuat dibawa beraksi dan dia kecanduan obat-obatan. Sisanya? Tetap sakti dan gagah perkasa tentunya, apalagi jelang final battle. Sosok bapak-bapak paruh baya penyakitan lenyap di tengah film, dan baru kembali lagi di ending.

Satu hal lagi yang cukup aneh adalah tim produksi cepat sekali mengungkap rahasia-rahasia dalam film ini. Nggak lama setelah serangan drone dilakukan, mereka langsung mengungkap pelakunya. Nggak lama setelah dalang utama mulai dibahas, langsung dikasih tahu siapa orangnya.

Well, memang sih semua itu sebenarnya nggak rahasia-rahasia amat, secara kalau kamu nonton dengan tekun, kamu bisa dengan mudah menebak siapa itu siapa. Mungkin tim produksi emang lebih pengen ngajak kita menikmati adegan aksinya alih-alih main tebak-tebakan? Who knows.

Namun, adegan aksi dalam film ini tetap terbilang oke sih, JoyFriends. Nggak seintens dua film sebelumnya, but still more than enough to entertain us. Dengan sedikit permainan kamera ala gim first person shooter dan pergerakan kamera yang dinamis, penonton selalu diajak menahan napas tiap adegan tembak-tembakan berlangsung. Agak pusing sih kadang, but cool.

Belum lagi adegan-adegan ledakan di film ini banyak yang menggunakan peledak sungguhan, JoyFriends. Dan itu hasilnya epik banget. Seenggaknya ada dua scene penting terkait ledakan-ledakan ini. Pertama, waktu rombongan Presiden Trumbull diserang oleh ratusan drone. Drone-drone tersebut sebenarnya adalah bom. Nah, kalian bayangin deh serentetan ledakan yang terjadi saat ratusan drone tersebut menghujam tanah.

Kedua, saat ayahnya Banning meledakkan puluhan bom yang ia tanam di dalam hutan. Scene ini begitu konyol sampai jadi begitu keren. I mean, orang macam apa yang bisa nanem bom begitu banyak di tengah hutan? Belum lagi dia berani meledakkannya saat anaknya sendiri berkeliaran di hutan itu.

Sayangnya, adegan-adegan aksi yang keren ini terganggu oleh CGI kacangan yang rasanya nggak pantes ada di film Hollywood jaman now. Serius, CGI film ini rasanya cuma sedikit lebih bagus dari CGI yang ada di serial Kamen Rider atau Super Sentai.

 

Summary
Overall, Angel Has Fallen masih layak tonton bagi kamu pecinta film aksi yang cuma pengen lihat tembak-tembakan dan ledakan di mana-mana. But, that's it. Jangan berharap lebih, dan sabar-sabar aja tiap adegan non aksi nongol.
Good
  • Adegan aksinya tetap seru
  • Efek ledakan asli yang keren
Bad
  • Kopong, adegan non aksi cenderung membosankan
  • CGI yang buruk
  • Pengenalan latar belakang yang sia-sia
6
Fair
Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>