Bloodshot Review: Penuh Action, tapi Nanggung

User Rating: 6
Bloodshot

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, 2020 pun akan dipenuhi dengan comic book movies. Bukan hanya dari DC dan Marvel, kali ini Valiant Comics pun ikut terjun dalam ranah ini dengan Bloodshot. Dibintangi oleh Vin Diesel, Bloodshot berkisah tentang Ray Garrison, seorang mantan tentara yang mendapatkan kekuatan super berkat nanotechnology.

Di awal film kita diperlihatkan tentang asal usul Ray: Seorang tentara dengan kemampuan di atas rata-rata sekaligus seorang suami yang sangat menyayangi istrinya, Gina DeCarlo (Talulah Riley). Namun, usai salah satu misinya, Ray mendapati kalau dia dan istrinya telah diculik oleh seorang bernama Martin Axe (Toby Kebbel).

Axe meminta Rai menyebutkan narasumber yang membocorkan informasi terkait misi terakhirnya. Tak bisa menyebutkan siapa orang tersebut, Rai dan istrinya pun dibunuh. Ray kemudian dihidupkan kembali oleh Dr. Emil Harting (Guy Pearce). Seperti yang sudah disebut di atas, Ray diinjeksikan dengan nanotechnology yang membuatnya bangkit dan memiliki kekuatan super. Dari situ, barulah kisah sang Bloodshot resmi dimulai.

Action yang Nggak Maksimal

Dilihat dari bintang utama dan genre filmnya aja, JoyFriends pasti udah kebayang film ini seperti apa. Yup, layaknya film Vin Diesel yang lain, Bloodshot berisi adegan tembak-tembakan plus kejar-kejaran.

Namun, saya merasa adegan-adegan action dalam film ini kurang menegangkan (selain final battle). Misalnya aja misi pertama Ray sebagai Bloodshot. Mengingat ini aksi pertamanya sebagai manusia super, tentu kita ingin melihat kekuatan barunya. Sayangnya, adegan ini lebih banyak diisi dengan adegan tembak-tembakan dan satu-satunya kekuatan Bloodshot yang ditunjukkan hanyalah dia nggak bisa mati meski ditembakin.

Lalu adegan pertarungan KT (Eiza Gonzalez) di paruh kedua film juga rasanya terlalu singkat dan hanya untuk “sekadar ada”. Pasalnya, adegan tersebut benar-benar satu-satunya adegan di mana KT beraksi dengan intens.  Padahal, adegan pertarungan ini dieksekusi dengan baik dengan koreografi yang apik.

Hal lain yang menurut saya jadi kekurangan film ini adalah slow motion hampir di semua adegan action. Sebentar-sebentar slo-mo, sebentar-sebentar slo-mo. Memang sih adegan yang di-slo-mo terbilang epik, tapi mungkin ini juga yang bikin saya ngerasa adegan actionnya kurang seru.

Nggak Perlu Baca Komiknya

Di sisi lain, Bloodshot bisa banget kamu nikmati tanpa membaca komiknya sama sekali. Terlebih lagi film ini memang menceritakan kisah origin sang superhero. Selain itu, karakter-karakter penting mendapatkan penjelasan latar belakang yang cukup jelas, plus alur ceritanya lurus dan nggak neko-neko.  Jadi, kamu nggak bakal bingung siapa adalah siapa dan kenapa momen A atau B bisa terjadi.

Poin plus lagi untuk film ini adalah keberadaan Wilfred Wigans, sang programmer jenius yang diperankan oleh Lamorne Morris. Dengan logat British yang kental dan selera humornya yang receh, karakter yang satu ini berhasil membuat Bloodshot lebih hidup. Tiap kali dia buka mulut, pasti ada aja omongan-omongan yang bikin penonton ketawa. Keberadaan Wigans bisa dibilang salah satu hal terbaik dalam film ini.

Dibintangi oleh Vin Diesel, Eiza González, Sam Heughan, Toby Kebbell, dan Guy Pearce, Bloodshot sudah bisa kamu nikmati di bioskop-bioskop terdekat.

Summary
Overall, kelebihan utama dari Bloodshot adalah kamu bisa menontonnya tanpa harus mengenal komiknya sama sekali. Alur cerita yang jelas juga bakal memudahkan kamu memahami kisah film ini. Di sisi lain, film karya sutradara David Wilson ini harusnya bisa jauh lebih baik mengingat masih banyak kemampuan Bloodshot yang belum ditunjukkan. Saran saya sih, JoyFriends nonton film ini kalo lagi iseng dan kelebihan duit.
Good
  • Nggak perlu baca komiknya
  • Jokes receh Wigans
  • Alur ceritanya jelas dan nggak membingungkan
Bad
  • Kekuatan Bloodshot belom dieksplor secara maksimal
  • Adegan actionnya kurang menegangkan
  • Banyak slo-mo nggak penting
6
Fair
Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

1 0