Burn The Witch Review: Cukupkah Dengan Action?

User Rating: 7.5
(doc. Muse Indonesia)

Burn the Witch telah resmi tayang pada Jumat 2 Oktober lalu, dan kanal Youtube Muse Asia serta Muse Indonesia tidak tanggung-tanggung menayangkan langsung 3 episode film animasinya.

Merupakan karya Tite Kubo yang masih satu universe dengan Bleach, Burn the Witch menceritakan pasukan penangkar naga yang terdapat pada sisi lain kota London.

Berikut adalah opini penulis setelah menonton ketiga episode tersebut, perhatian! Spoiler alert!

Sinopsis & Karakter

Noel Niihashi dan Ninny Spangcole adalah duo anggota organisasi Wind Bind, sebuah organisasi yang bertugas untuk menangkar dan membasmi naga liar.

(doc. Muse Indonesia

Naga sendiri adalah makhluk mistis yang pada jaman dahulu menjadi banyak penyebab bencana. Orang-orang biasa yang ada di Front London tidak bisa melihatnya, berbeda dengan penduduk Reverse London.

Beberapa orang yang dapat menggunakan kekuatan sihir, membuat peraturan yang menghukum siapapun yang melakukan kontak dengan naga, dan memegang seluruh kendali oleh organisasi Wind Bind.

Noel dan Ninny bertugas untuk menjaga lelaki bernama Balgo, yang memiliki kemampuan misterius untuk menarik perhatian naga. Walaupun begitu, Balgo terlihat tidak tahu sama sekali apa yang membuatnya memiliki kemampuan tersebut.

(doc. Muse Indonesia)

Secara cerita, Burn the Witch terasa banyak menyembunyikan prolog dalam setiap karakter. Penonton dilempar langsung di tengah-tengah interaksi Noel, Ninny, Balgo, dan atasan mereka, Billy Banx.

Tutur cerita ini memang wajar diterapkan pada sebuah seri pendek, namun worldbuilding Burn the Witch lebih cocok untuk sebuah seri shonen yang setidaknya tayang dua cour.

Ninny adalah perempuan dengan kepribadian yang agak kasar dan terkesan tsundere, sementara Noel pendiam, namun dapat mengucapkan komentar pedas. Kombinasi kepribadian ini bisa dikatakan ‘seimbang dan normal’ untuk menghadirkan interaksi unik dalam seri anime.

Masalahnya ada pada Balgo sebagai salah satu karakter ‘kunci’ dalam cerita ini. Ia disebut sebagai seorang Dragonclad yang memiliki kemampuan untuk menarik perhatian naga-naga. Selain itu sepertinya dia juga memiliki kemampuan yang dapat merubah manusia biasa menjadi Dragonclad.

(doc. Muse Indonesia)

Balgo memiliki kepribadian ceria yang cenderung membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Ia lebih sering berada di pinggir pertarungan, dan harus diselamatkan oleh Ninny dan Noel, hampir setiap saat.

Keberadaan Balgo cukup mengganggu bagi penulis, karena ia terasa tidak signifikan dalam cerita walaupun memegang peran penting. Jika kepribadian Balgo lebih normal dan tidak digambarkan sebagai comedy relief, mungkin penulis akan berpendapat lain.

Worldbuilding

Reverse London terlihat serupa dengan kota London modern, hanya saja lebih banyak pohon yang menambahkan elemen fantasi dalam dunia ini. Reverse London memiliki semua teknologi yang juga dimiliki Front London (London dunia nyata) dengan perbedaan bahwa Reverse London memiliki lebih banyak padang rumput untuk tempat penangkaran naga.

Naga-naga yang muncul di seri ini juga memiliki desain yang unik dan tidak selalu mirip dengan gambaran naga umum. Ninny dan Noel menggunakan naga sebagai alat transportasi seperti penyihir yang menggunakan sapu terbang.

(doc. Muse Indonesia)

Penulis berharap akan ada lebih banyak interaksi dari para Witch dan Wizard dengan naga-naga mereka, melihat bahwa naga dapat menjadi partner tarung yang dapat dihandalkan.

(doc. Muse Indonesia)

Burn the Witch menampilkan pertarungan-pertarungan naga ini dengan apik. Mulai dari episode pertama, dengan kemunculan Dark Dragon, hingga episode terakhir, dalam pertempuran melawan naga legendaris yang disebut Marchen.

Efek-efek serangan dan ledakan digambar dengan penuh gaya, disertai dengan efek suara yang pas, dan desain musuh yang keren.

(doc. Muse Indonesia)

Terlalu Banyak Istilah Untuk Seri Pendek

Hal lain yang cukup mengganggu adalah banyaknya istilah yang digunakan dalam seri ini walaupun hanya dibuat sebanyak tiga episode. Contohnya seperi Wind Binds yang dipimpin oleh Top of Horns dan memiliki berbagai divisi seperti Inks, Pipers, Sabres, dan Patchworks. Jika namanya disederhanakan, organisasi ini akan terasa lebih natural.

(doc. Muse Indonesia)

We Need More!

(doc. Muse Indonesia)

Masih banyak misteri yang belum terjawab dari tiga episode yang ditayangkan. Kita pastinya berharap bahwa akan ada lebih banyak cerita lagi untuk serial Burn the Witch ini, terutama misteri Balgo serta hubungannya dengan Noel, maupun masa lalu Ninny.

Dilansir dari Crunchyroll, Tite Kubo sendiri telah membocorkan pengerjaan season kedua dari manga Burn the Witch. Sayangnya belum ada informasi kelanjutan dari adaptasi animenya.

Pada akhirnya, Burn the Witch adalah tontonan aksi yang seru untuk kalian tonton pada season fall ini. Walaupun agak sulit untuk dimengerti awalnya, kita dapat dengan cepat mendapat gambaran keseluruhan cerita serta desain dunia dari anime ini.

Sayangnya, sepertinya masih cukup lama hingga kita mendapat kelanjutan cerita dari Noel dan Ninny.

Kalian dapat menyaksikan Burn the Witch melalui kanal resmi Youtube Muse Asia dan Muse Indonesia!

Cek lebih banyak lagi artikel bergizi seputar pop culture atau tulisan menarik lainnya dari Leo Agung. Follow juga Facebook dan Instagram Joypixel!

Summary
Burn the Witch memiliki adegan aksi keren yang cocok dengan kalian yang menyukai anime-anime tipe shonen. Sayangnya cerita yang pendek masih menyembunyikan misteri latar belakang masing-masing karakter yang muncul di seri ini.
Good
  • Adegan action yang keren
  • Heroine dengan 'kepribadian' yang menarik
  • Setting dunia yang berbeda dari karya Tite Kubo sebelumnya
Bad
  • Pendek, butuh lebih banyak materi untuk menguak misterinya
  • Terlalu banyak istilah untuk penonton pertama kali
  • Balgo
7.5
Good
Written by
Pencari gem anime terbaik setiap season, cita-citanya yang paling besar adalah jadi karakter OP di seri isekai.

Is the Story Interesting?

0 0