Dora and the Lost City of Gold – Review: Penuh Kejutan!

User Rating: 8

Swiper, jangan mencuri! Swiper, jangan mencuri! Swiper, jangan mencuri!

Beberapa kalian dari pasti nggak asing dengan kata-kata tersebut. Yup, itu ucapan Dora sang Petualang saat berusaha menghalau Swiper, si rubah kleptomaniak. Karakter Nickeloden ciptaan Chris Gilford, Valeri Walsh Valdes, dan Eric Weiner ini memang pernah hadir di layar kaca Indonesia di era 2000an.

Pertama kali debut di Amerika Serikat pada 12 Juni 1999, kini Dora the Explorer telah memasuki musim kedelapan lho, JoyFriends! Serial animasi ini terbilang memorable berkat format interaktif yang diusungnya. Dalam satu episode, gadis Latina ini tiada hentinya bertanya pada penonton mengenai berbagai hal. Mulai dari menanyakan arah, memanggilkan seseorang, hingga tentu aja mengusir Swiper.

Nah, di tahun 2019 ini, Dora pun mengikuti tren kekinian dengan muncul di layar lebar dengan format live action! Berjudul Dora and the Lost City of Gold, film ini disutradarai oleh James Bobin dan dibintangi Isabela Moner sebagai Dora.

Dikisahkan, kini Dora telah berusia 16 tahun dan bersiap untuk pindah ke Amerika setelah seumur hidup tinggal di hutan hujan Amazon. Namanya juga biasa tinggal di hutan, hidup dan bersekolah di kota tentu menjadi tantangan tersendiri. Di sana dia harus berhadapan dengan Sammy, sang juara kelas yang sombong. Dora juga bertemu dengan Randy, pemuda geek culun yang selalu jadi korban bully.

Sayangnya, meski sudah dibantu oleh Diego, sang sepupu, tetap saja Dora dianggap aneh oleh “warga asli” SMA tersebut. Penderitaan Dora nggak berhenti di situ, JoyFriends. Baru dua pekan tinggal di AS, Dora, Diego, Randy, dan Sammy diculik oleh sekelompok pemburu harta! Mereka ingin memaksa Dora melacak orang tuanya yang hilang saat mencari Parapata, kota emas yang hilang. Dan dari situlah petualangan dimulai.

Bukan Kacang yang Lupa Kulitnya

Pada umumnya, banyak film-film live action yang berusaha keras membedakan diri dengan original source-nya. Misalnya dengan mengambil sudut pandang masalah yang begitu berbeda. Namun, tidak begitu halnya dengan Dora and the Lost City of Gold. Memang, di sini Dora sudah berusia 16 tahun. Rekan yang menemani dia berpetualang pun adalah empat manusia, bukan lagi hewan atau tas dan peta yang bisa bicara. Tapi film ini tetaplah Dora the Explorer.

Unsur petualangan disajikan dengan apik dan menyenangkan di dalamnya. Lengkap dengan teka-teki khas Dora dan sedikit adegan action yang mustahil kita temui di serial animasinya. Bukan cuma itu, tim produksi pun tanpa ragu memasukkan unsur-unsur khas Dora the Explorer ke dalam film ini, JoyFriends!

Unsur-unsur khas serial animasi tersebut bagi saya sih sangat mengejutkan. Soalnya, saya benar-benar nggak nyangka hal tersebut bakal dimasukkan ke dalam film live action. Kejutan-kejutan inilah yang menurut saya menjadi daya tarik utama Dora and the Lost City of Gold, terutama bagi orang-orang yang pernah menonton serial animasinya di masa kecil. Saya sebenarnya pengen banget bahas kejutan-kejutan tersebut, tapi jadinya spoiler buat kamu yang belum nonton.

Karakter Dora yang over positive juga ditampilkan dengan porsi yang tepat. Alih-alih digunakan secara berlebihan sampai bikin orang sebal, penonton justru diajak memahami kenapa Dora bisa tetap (sangat) positif di tengah cibiran teman-teman di sekolah baru tersebut. Semua itu disajikan dalam alur yang lurus dan nggak bertele-tele. Well, namanya juga tontonan untuk anak-anak. Tapi tenang aja, film ini nggak bakal bikin kamu bosan kok, JoyFriends.

Dan mengingat ini sedikit berlatar di sebuah sekolah, saya sangat mengapresiasi tim produksi yang menampilkan Dora and the gang sebagai anak SMA pada umumnya. Nggak ada yang ditampilkan sebagai gadis super cantik atau pemuda super tampan seperti di tayangan berlatar sekolah lainnya. Semua biasa aja, termasuk Sammy yang padahal diposisikan sebagai sosok terkenal (dan menyebalkan) di sekolah itu. Bagi saya, itu sebuah poin plus.

Sub-plot yang Nanggung

Sayangnya, saya terdikit terganggu dengan plot Dora harus ke Amerika. Menurut saya plot tersebut nggak menawarkan apa pun terhadap jalan cerita selain memasukkan Randy dan Sammy ke tim Dora. Durasinya terlalu sebentar jika ingin menunjukkan Dora yang kesulitan bersosialisasi di kota serta perisakan yang dia terima.

Konflik antara Dora dan Diego yang dibangun di sana juga terbilang kentang. Sejak konflik itu terpercik, sedikit sekali momen yang menunjukkan kalau dua saudara itu lagi berantem. Begitu masuk hutan, Diego pun “nurut” sama sepupunya. Sekali lagi, saya rasa itu karena durasinya kurang lama untuk memupuk konflik tersebut.

Dora and the Lost City of Gold dibintangi oleh Isabela Moner, Eugenio Derbez, Michael Pena, Eva Longoria, Madelein Madden, Nicholas Coombe, dan Jeff Wahlberg.

 

Summary
Dora and the Lost City of Gold bisa banget jadi tontonan kamu di weekend ini, JoyFriends. Terlebih lagi kalau kamu pernah menonton serial animasinya, soalnya banyak kejutan yang pasti bakal bikin kamu terkenang sama masa kecil.
Good
  • Membawa unsur Dora versi animasi
  • Jokes yang penuh kejutan
  • Gaya bercerita yang sederhana dan mudah diikuti
Bad
  • Momen pindah ke Amerika nggak penting
  • Konflik dengan Diego pun hampa
8
Great
Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>