Ford v Ferrari – Review: Perjuangan Menantang Legenda

User Rating: 8

Ford v Ferrari adalah sebuah film yang wajib banget ditonton oleh pecinta mobil dan balapan. Dibintangi oleh Christian Bale dan Matt Damon, film ini terinspirasi dari kisah nyata perjuangan Ford Motor Company melawan Ferrari dalam ajang balapan legendaris, 24 Heures du Mans alias Le Mans 24 Jam, di tahun 1966.

Sesuai dengan namanya, Le Mans 24 Jam adalah salah satu ajang balap endurance tertua di dunia yang dimulai sejak tahun 1923 di Le Mans, Prancis. Nah, Ferrari bisa dibilang adalah dewa dalam ajang balapan ini. Pabrikan tersebut memenangi Le Mans 24 Jam pada tahun 1958 dan tiap tahun dari 1960 hingga 1965. Kesuksesan Ferrari di dunia balap pun akhirnya berpengaruh pada kesuksesan komersial.

Sementara itu, penjualan Ford Motor Company tengah terpuruk di era 60-an tersebut. Lee Iacocca (Jon Bernthal) selaku salah satu wakil presiden Ford mengusulkan untuk membuat divisi mobil balap demi meningkatkan citra dan menyarankan kantornya mengakuisisi Ferrari. Sayangnya, Ferrari kemudian menolak mentah-mentah tawaran akuisisi dari Ford. Tidak terima dengan hal tersebut, Henry Ford II (Tracy Letts) langsung membentuk divisi balapnya sendiri dan bertekad menaklukkan Ferrari di Le Mans 24 Jam.

Untuk memenuhi mimpinya tersebut, Ford kemudian merekrut Carroll Shelby (Matt Damon), pemenang Le Mans 24 Jam tahun 1959, yang kini bekerja sebagai desainer otomotif. Shelby lalu mengajak Ken Miles (Christian Bale), teman lamanya yang juga pembalap profesional, untuk bergabung dalam proyek tersebut. Dan dimulailah perjuangan Ford Motor Company menantang legenda dunia balap.

Fokus

Menurut saya, film yang disutradarai oleh James Mangold benar-benar fokus pada inti cerita. Hampir nggak ada subplot dan konflik sampingan di dalam film ini. Kalau pun ada, masalah keluarga Ken Miles misalnya, hanya ditampilkan secuil dan jatuhnya masih berkaitan erat dengan inti cerita. Pokoknya kamu nggak bakal keganggu dengan konflik-konflik nggak penting deh, JoyFriends.

Selain itu, walaupun fokus kisahnya adalah pengembangan mobil balap untuk mengalahkan Ferrari, Ford v Ferrari lebih mengedepankan konflik humanis alih-alih menonjolkan momen-momen teknis dalam proses pembuatan mobil. Semua permasalahan teknis dalam film ini hanya disajikan secara sepintas, sekadar menunjukkan bahwa ada masalah dalam proses pembuatannya.

Bagi saya pribadi, hal tersebut menjadi poin positif dan negatif di saat yang bersamaan. Minimnya momen dan istilah teknis jelas mempermudah penonton awam untuk menikmati film ini. Siapa juga yang mau nonton kalau isinya kebanyakan istilah bengkel.

Di sisi lain, saya juga ingin melihat aspek teknis tersebut sedikit lebih ditonjolkan. Bagaimanapun juga, ini film soal pembuatan mobil. Rasanya agak gimana gitu kalau nggak ada adegan proses “ngebengkel” sama sekali.

Penggambaran aspek teknis dalam film ini kurang lebih seperti ini, JoyFriends: Shellby dan tim nyediain mobil, Miles melakukan test drive, Miles kasih feedback. Lalu di beberapa adegan berikutnya, feedback itu udah ditangani, Miles melakukan test drive lagi, kasih feedback lagi, berulang terus begitu. Jadi, nggak ada adegan bagaimana feedback tersebut diatasi. Padahal, saya rasa unsur dramatisasinya bakal lebih keren jika ada secuil adegan ngebengkel.

Secuil kekurangan lain dalam film ini adalah minimnya penjelasan latar belakang Ken Miles. Jika kamu hanya “mempelajari” Ken Miles dari film ini, kamu pasti bakal mengira dia hanya veteran Perang Dunia II yang punya bakat natural di dunia otomotif dan kemudian menjadi montir bengkel sekaligus pembalap amatir.

Padahal, pria kelahiran Birmingham tersebut ternyata udah lama berkecimpung di dunia otomotif, baik sebagai desainer maupun pembalap profesional, dan memiliki segudang prestasi yang nggak main-main. Apa yang ditampilkan dalam Ford v Ferrari benar-benar hanya sepotong kecil dari kesuksesan Ken Miles. Kamu bisa baca perjalanan karirnya di link ini, JoyFriends.

Adegan Balap yang Keren

Tim produksi jelas sukses menghadirkan adegan balap yang keren dan menegangkan. Kita bisa ikut merasakan ketegangan Miles di bangku pengemudi saat mengemudi di berbagai kompetisi yang dia ikuti. Hal tersebut didukung pula dengan banyaknya shot ala game Gran Turismo dan suara raungan mesin yang menggelegar. Bagi saya sih, tiap adegan balap itu jadi sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan.

Summary
Film ini cocok buat kamu para pecinta film drama dan pecinta otomotif. Kamu bakal bisa menyaksikan bagaimana peliknya konflik kepentingan dalam sebuah pembuatan mobil, yang kemudian dilengkapi dengan adegan balap yang menegangkan. Jika kamu punya waktu luang, saran kami sih sempetin buat nonton, JoyFriends!
Good
  • Narasi yang fokus
  • Adegan balap yang keren
  • Bisa dinikmati penonton awam
Bad
  • Latar belakang Ken Miles kurang digali
  • Adegan proses pembuatan mobil kurang banyak
8
Great
Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.