I Want to Eat Your Pancreas – Review: Cara Manis Tertawakan Kematian

User Rating: 8

Salah satu unsur penting dalam membuat sebuah satir adalah pukulan kuat yang langsung ngena dalam mengkritik (sering kali mencemooh) individu, korporat, pemerintah, atau masyarakat agar mereka sadar dan melakukan pembaharuan. Meski satir biasanya dibentuk agar menjadi penuh humor, tertawa bukanlah komponen kuncinya. Bahkan beberapa tipe satir tidak dibuat untuk menjadi lucu sama sekali.

Majalah terbitan Amerika, Galaxy Science Fiction, bahkan pernah menyinggung hal ini dan menuliskan bila aturan satir adalah harus melakukan lebih ketimbang sekadar membuat tertawa.

Agaknya, rules inilah yang diterapkan ke dalam karya Yoru Sumino yang berjudul I Want to Eat Your Pancreas. Berawal dari sebuah web novel yang akhirnya bisa dicetak, dibuat manga, diadaptasi dalam bentuk live action hingga sekarang film animasinya keluar, karya ini tetap memberikan after taste yang nyata: sebuah perasaan getir yang selalu muncul saat kita selesai tertawa.

Sakura Yamauchi (disuarakan oleh LYNN) adalah seorang siswi SMA Jepang yang mendapat vonis penyakit kronis di pankreas. Penyakit tersebut membuat hidupnya hanya tinggal beberapa bulan lagi. Semua informasi yang berkaitan tentang hal tersebut disimpan rapat-rapat dalam sebuah buku harian.

Dikisahkan, buku harian Sakura tertinggal di bangku rumah sakit dan ditemukan oleh sang protagonis, sebut saja Aku (disuarakan oleh Mahiro Takasugi). Tidak ingin rahasianya tersebar, Sakura meminta Aku menjaga informasi tersebut dan memutuskan berteman dengannya.

Secara kasat mata, hanya itulah plot utama anime I Want to Eat Your Pancreas. Protagonis utama menemukan buku harian, berteman dengan sang pemilik, dan saling kemudian mengenal. Meski terdengar sederhana, proses saling mengenal inilah yang menjadi nilai jual dari anime ini, yang tentunya sangat relevan dengan kondisi masyarakat di zaman ini.

Sakura menjadi sebuah icon dari mereka yang sedang berhadapan dengan penyakit fisik, tapi tetap ceria dan memiliki banyak teman. Sementara di satu sisi, karakter Aku muncul sebagai protagonis yang sangat bertolak belakang dari Sakura. Dengan punch yang kuat kepada audiens, Aku langsung memberikan image sebagai cowok dingin, tidak punya teman dan tidak mau berurusan dengan orang lain.

“Aku mau mati lho dan jawabanmu hanya seperti itu?” tanya Sakura diiringi tawa begitu menerima jawaban dari Aku yang biasa saja setelah mengetahui teman sekelasnya akan mati sebentar lagi.

Baca juga: Chihayafuru Part 3 – Review: Adaptasi yang Sempurna

Dialog yang mengundang gelak tawa ini secara tidak langsung menyentil nalar kita sebagai seorang manusia akan kejujuran sebuah respon. Seiring cerita berjalan kita bakal merasa bila sang pengarang semakin bermain-main dengan hal tersebut melalui interaksi antara Sakura dan Aku dalam komedi satire.

Penolakan dari Aku akan selalu dibalas dengan kalimat-kalimat ironi dari Sakura seperti, “aku sebentar lagi akan mati lho,” atau, “aku ingin melakukan ini sebelum aku mati.” Hal tersebut membuat cerita terus berjalan dengan hangatnya versi anak SMA.

Sepanjang 1 jam 48 menit, I Want to Eat Your Pancreas mengajarkan kepada kita cara yang tepat untuk menertawakan kematian. Memang tidak masuk di akal tapi perkembangan karakter Aku memberikan kita pelajaran bagaimana cara merespon kebutuhan-kebutuhan penting untuk orang-orang terdekat. Hal ini pun menjadi sinkron dengan fenomena kodokushi atau meninggal dalam kesendirian yang kian marak di Jepang.

Tidak hanya gila kerja, kesendirian pun menjadi salah satu sebab kematian di Negeri Bunga Sakura. Kodokushi kerap terjadi kepada mereka yang diabaikan oleh keluarga. Namun, tren yang terjadi baru-baru ini menunjukan bila fenomena itu juga terjadi di orang muda karena lingkungan kerja mereka. Japan Today memuat data dari biro Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Masyarakat Pemerintah Tokyo yang menunjukan bila sepanjang 2015, setidaknya ada 238 orang berusia 20-30 tahun ditemukan meninggal sendirian.

Sebuah pesan yang gamblang disajikan dalam sebuah film animasi yang ringan dan ceria. Sekali lagi karya seni Jepang terbukti mampu dengan jujur menyajikan kritik kepada masyarakat. Jadi sebenarnya siapakah yang lebih perlu untuk ditolong, Aku atau Sakura?

Summary
I Want to Eat Your Pancreas adalah komedi satir yang dibuat dalam bungkusan permen cherry yang manis. Sayangnya begitu dimakan, dia seperti masakan pedas yang walau rasanya menyakitkan membuat kita ingin untuk merasakannya lagi.
Good
  • Ceritanya sesuai dengan cerita original
  • Animasi yang cukup baik untuk produksi studio baru
  • LYNN membuktikan kualitasnya sebagai pengisi suara handal
  • OST yang keren-keren
Bad
  • Masih ditemukan ketidakkosistenanan dalam kualitas animasi
  • BGM kadang terlalu monoton atau malah kosong sama sekali
8
Great
Written by
Being adult with the spirit of Samurai X and Neon Genesis Evangelion, this man now decided to make a team of superhero like Avengers. Moviegoers and you can follow his visual track on instagram.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>