It Comes – Review : Kehidupanlah Terror Sesungguhnya

User Rating: 7

Berbicara tentang horor, film produksi Jepang selalu punya cita rasa sendiri yang membedakannya dengan film-film produksi negara lain. Sebut saja The Ring yang memulainya dengan ikonik hingga Suicide Club yang nggak cocok buat jantung lemah. Salah satu yang masuk dalam daftar tersebut adalah Confessions karya Tetsuya Nakashima yang rilis di 2010. Tidak berhenti sampai di situ, Nakashima kembali untuk menakut-nakuti dengan karya terbarunya berjudul It Comes.

Adaptasi novel horror pemenang penghargaan berjudul sama (KURU) karangan Ichi Sawamura ini sebenernya adalah penjajakan baru Nakashima bila kita berbicara tentang genre. Pasalnya horor-horor yang sering dibuat oleh pria berumur 59 ini lebih banyak berkisah tentang sisi gelap manusia daripada gangguan roh jahat atau monster.

Maka dari itu It Comes menjadi sebuah suguhan menarik untuk disimak buat mereka yang menantikan horor Jepang pasti nggak biasa. Ciri khas film Nakashima adalah kental dengan dialog naratif namun tetap memberikan visual yang menggetarkan. Makanya nggak heran bila It Comes pun nggak jauh-jauh dari hal tersebut.

Kisah tentang keluarga Tahara yang berisi Hideki (Satoshi Tsumabuki) dan Kana (Haru Kuroki) menjadi berbeda dengan keluarga Jepang kebanyakan. Semua dimulai dari perubahan sikap Hideki yang terobsesi menjadi kepala keluarga ideal setelah anak pertama mereka, Chisa, lahir. Kedatangan Chisa seketika mengubah Hideki yang dikenal culun menjadi bintang di lingkungan sosial mereka.

Teror dimulai dari kejadian-kejadian aneh yang menyerang Chisa dan Kana saat Hideki tidak di rumah. Telepon misterius, sakit aneh yang terjadi pada teman sekantornya, hingga angin jahat yang mengacak-acak rumah membuat Hideki pusing bukan kepalang. Menghubungi teman baiknya yang seorang professor di bidang cerita rakyat, bertemulah mereka dengan penulis cerita mistis Nozaki (Junichi Okada).

Baca juga: Pokemon: Detective Pikachu – Review: Simple, tapi Berkesan

Nozaki (kiri) yang mencoba membantu Hideki (kanan) dalam masalah supranatural yang menyerang keluarganya.

Solusi yang diberikan Nozaki adalah meminta bantuan dari Makoto (Nana Komatsu), pacarnya yang eksentrik dengan kekuatan supranatural turunan keluarga. Naas, Makoto pun ternyata tidak kuasa menghadapi kuasa jahat tersebut.

Secara umum, It Comes mengalir deras namun enak untuk diikuti. Durasi 135 menit tidak terasa karena film ini padat dalam sisi cerita. Malahan, tidak tampak kesulitan untuk menginterpretasikan seluruh isi cerita novel tanpa meninggalkan bagian-bagian penting cerita. Yang saya suka adalah film ini terbagi dalam chapter-chapter di mana saya melihatnya sebagai sebuah kesegaran, terlepas dari durasi yang kurang karena menanggap banyak detil cerita yang hilang.

Eye candy pun ada dalam film ini, JoyFriends. Nana Komatsu mampu membius saya dengan gayanya yang asik sebagai peramal harajuku. Karakter kakaknya yang diperankan oleh Takako Matsu pun dengan pas menyatu dengan cerita. Untuk ukuran para pemilik kekuatan spiritual yang punya karakter berlawanan, keduanya mampu memerankan masing-masing peran dengan apik.

Kemampuan Haru Kuroki dalam memainkan emosinya di sini adalah sebuah nilai tambah bagi It Comes.

Namun untuk akting, yang paling menggugah saya adalah Haru Kuroki. Pemeran ibu yang suami dan anaknya menjadi incaran roh jahat ini sangat apik dalam mengeskalasi emosinya. Dari seorang wanita polos menjadi ibu-ibu putus asa dan penuh stress dapat dia lakukan. Poros film ini sebenarnya terdapat di chapter yang menceritakan hidupnya.

It Comes adalah sebuah pembuktian bahwa Nakashima mampu membuat sesuatu berbeda dengan masih membawa ciri khasnya. Dialog kuat, akting yang memesona dan alur cerita padat. Tidak membosankan, this film can bring you another chill into Japanese nightmare and remember, the real terror is actually resides on your life.

Summary
It Comes bisa menjadi alternatif film horror Jepang yang patut ditonton untuk tahun ini. Kendati berbeda dengan horror Jepang pada umumnya dan bergaya lebih ke anime, film ini masih mampu menunjukan kualitasnya kepada yang lain.
Good
  • Gaya khas Naratif Sutradara Nakasima masih bisa dirasakan dalam genre full horror
  • Battle of Spiritnya ditampilkan dengan maksimal, superb!
  • Akting pemerannya total, Nana Komatsu tidak cuma jadi sekedar eye candy
Bad
  • Banyak detil-detil yang hilang tentang jalan ceritanya
  • Musiknya kurang ngena, monoton
7
Good
Written by
Being adult with the spirit of Samurai X and Neon Genesis Evangelion, this man now decided to make a team of superhero like Avengers. Moviegoers and you can follow his visual track on instagram.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>