Mara – Review: Horor yang Melompong!

User Rating: 5
Film horor psikologi bertebaran di tahun ini. Usai sukses A Quiet Place dan Hereditary tampil impresif, Hollywood kembali hadir dengan satu judul yang cukup menarik untuk dikulik, Mara. Berbeda dengan kedua film tersebut, Mara melibatkan fenomena sleep paralysis atau ketindihan sebagai fokus utamanya.
Namun, sang rumah produksi, Saban Films enggan menggelotorkan banyak bujet untuk Mara. Nggak heran, komposisi bintangnya pun nggak terbilang spesial. Nama-nama B-list seperti, Craig Conway, Javier Botet, dan Rosie Fellner direkrut buat mengonversi isi naskah ke dalam aktingnya.
Hanya ada Olga Kurylenko yang coba menyelamatkan wajah dari film ini. Berperan sebagai Kate Fuller, aktris yang terkenal lewat film-film seperti The November Man, Oblivion dan The Water Diviner pun nggak bisa berbuat banyak di dalam film karya Clive Toge.
Mara sendiri merupakan sosok iblis yang muncul di tiap mimpi atau halusinasi para pengidap sleep paralysis. Terlebih saat seorang gadis bernama Sophie (Mackenzie Imsand) menyaksikan wujud menakutkan tersebut muncul tubuh sang ayah yang meninggal dunia.

Kejadian ini pun menarik minat Kate (Olga Kurylenko) untuk menginvestigasi. Berdasarkan informasi mengenap sleep paralysis, ia berusaha mengejar mahluk tersebut, termasuk ke Dougie (Craig Conway) yang kebetulan mengerti akan kehadiran Mara.
Semakin dalam ia mengejar, semakin berat pula tugasnya. Bahkan, posisi Kate makin diperparah dengan fakta kalau ia mulai terjebak dalam fenomena sleep paralysis tersebut, terlebih saat ia menemukan binting merah di matanya, tanda eksistensi Mara.

Kengerian Tanpa Konsistensi

Berdurasi sekitar dua jam kurang, film ini menyajikan paket horor psikologi yang cukup ringan. Meski memiliki atmosfer pekat yang dibangun sejak awal, pace atau alur film ini terasa sangat lambat. Hal ini diupayakan sang sutradara, Clive Toge, agar para penonton menangkap kengerian yang dihadirkan oleh sosok Mara ini. Sayang, justru pace lambat tersebut membuat film ini terasa menjenuhkan.

Hal yang sama pun terjadi dengan pemilihan tone per adegan di mana kengerian menyaksikan Mara justru jeblok di pertengahan film dan nggak konsisten. Kamu justru bahkan dibuat kaget dan ngeri setengah mati lewat sound effect seperti blender hingga alarm yang berbunyi secara tiba-tiba dengan volume kencang.
Masalah di internal film ini pun nggak bisa diselamatkan dengan akting dari Kurylenko sendiri. Ia tampak bersusah payah menerjemahkan apa yang diinginkan naskah film ke dalam aktingnya, terlihat dari cara ia memandang sang iblis di beberapa adegan. Bukan kengerian yang didapat, namun justru tatapan kosong yang melompong.
Hanya ada satu poin positif dari film ini yang dapat dipuji, atmosfer. Dengan lokasi film di Savanah, Georgia, Mara sukses menciptakan atmosfer menegangkan dan pekat.
Jadi, kalau kamu lagi cari film horor yang asyik buat akhir pekan, masih ada yang lebih bagus dari Mara, atau lebih buruk…..
Summary
Maksud hati menjadi film horor psikologi, Mara justru menyajikan film horor yang membosankan. Nama besar Olga Kurylenko pun nggak bisa menyelamatkan Mara, kalau bukan malah ikut menjatuhkannya.
Good
  • TIm produksi sukses membuat atmosfer yang mencekam dan membuat merinding.
Bad
  • Pace yang lambat dan membosankan.
  • Visual tone yang nggak konsisten, kalah seram sama suara blender .
  • Akting karakter utama yang jauh dari kata memuaskan.
5
Average

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>