One Cut of The Dead – Review : Much Better Than You Think

User Rating: 9

One Cut of the Dead adalah film pendek yang cukup menyenangkan dan unik, setidaknya itulah yang terlihat dari 30 menit durasi pertama film. Setidaknya selama seperempat jam lebih penonton disuguhkan  seperti yang telah dijanjikan dalam sinopsis; satu film menegangkan yang diambil hanya dengan satu kali pengambilan gambar. Sebenarnya, 30 menit itu sudah bisa membuat penonton terpukau, tapi untungnya One Cut of the Dead menyuguhkan hal yang lebih daripada itu.

Film dibuka di sebuah gedung bobrok yang terbengkalai, tempat sebuah kru film tengah memproduksi film zombie. Sutradara Higurashi (Takayuki Hamatsu) marah-marah ke artisnya, Chinatsu (Yuzuki Akiyama) karena aktingnya jelek. Kesal bukan kepalang, Higurashi menemukan sebuah cara untuk membuat filmnya tambah hidup dengan melakukan sebuah ritual yang membangkitkan zombie beneran.

Baca juga: Deretan Film yang Wajib Tonton di Pekan Sinema Jepang 2018

Plotnya Biasa? Oh, Jangan Salah~

Plotnya mungkin terdengar sangat umum seperti film zombie pada umumnya. Apalagi diceritakan juga bila gedung tempat pengambilan gambar adalah lokasi eksperimen militer di perang dunia II. Terdengar sangat biasa bukan? Alur-alur seperti ini dapat dengan mudah kamu dapatkan di video games atau di film-film aksi.

Namun seperti yang saya katakan, One Cut of The Dead lebih daripada itu. Sayangnya, sangat sulit untuk memberikan pendapat tanpa membeberkan keseluruhan dari cerita. Untuk menghindari efek kejut, marilah kita mulai penjelasannya dengan menceritakan perjalanan dari filmnya sendiri di dunia nyata.

Film ini diproduksi pertama kali sebagai proyek sekolah penyutradaraan dan akting, ENBU Seminar. Sutradaranya bernama Shinichiro Ueda yang masih tergolong muda karena baru 2015 kemarin dia merilis film pertamanya berupa kumpulan film-film pendek, Neko Manma.

Ueda tergolong orang yang unik dan sedikit ambisius karena dia memiliki motto “Membuat film akan tetap menyenangkan setelah 100 tahun,” begitu katanya. Makanya nggak mengherankan kalau One Cut of the Dead sanggup menjadi pembuktiannya yang sempurna.

Baca juga: Perbandingan Antara Action Figure NECA dan McFarlane!

Film Komedi yang Hangat

Seperti kebanyakan film Jepang lainnya, ada beberapa unsur  khas film-film rilisan negeri Sakura yang tidak bisa ditemukan di film-film rilisan negara lain. One Cut of the Dead uniknya bisa menggabungkan unsur-unsur itu tanpa ditemukan ketimpangan. Film ini sukses memadukan unsur absurd yang sumpah-kamu-nggak-bakal-nyangka sampai dengan drama keluarga yang menghangatkan hati. Doraemon banget bukan?

Sepanjang 30 menit di awal film yang diklaim hanya dalam satu pengambilan gambar itu kita bisa melihat dengan jelas seperti apa kekonyolan ala Jepang yang tiada tara. Keseriusan sutradara Higurashi dalam mewujudkan proyek film zombienya ternyata memiliki alasan yang cukup dalam menyangkut keluarganya. Kocaknya, keseriusannya itu benar-benar sangat gila dan hal tersebut bisa membuat seisi bioskop terpingkal-pingkal.

Aksi kocak sutradara Higurashi yang totalitas pasti buat kamu semua ngakak

Dan seperti drama komedi keluarga, kekonyolan tersebut pun pelan-pelan bergeser kepada pemahaman diri dan hubungan antar manusia. One Cut of the Dead pun menjadi hangat secara perlahan. Karakter-karakter yang tadinya kita cuma pikir sekedar lewat, mereka pun bisa menjadi dekat dengan kita. Sulit dibayangkan tapi begitulah kekuatan yang ditampilkan secara sederhana oleh Ueda. Dia sepertinya tidak ingin bertele-tele, langsung jujur dalam mengungkapkan perasaan setiap karakternya, sangat humanis dan manusiawi. Tidak heran kalau film ini begitu diunggulkan untuk masuk festival film dan mungkin bisa dapat penghargaan ke depannya.

Summary
One Cut of the Dead lebih dari film experimental yang menyajikan proyek out-of-the-box dimana semuanya diambil dengan satu pengambilan gambar. Melampaui itu, film ini sukses membawa kita ke pemahaman kalau sebuah karya yang terlihat hebat dan sempurna, tidak lepas dari perjuangan tiap-tiap orang yang berusaha mewujudkannya. 
Good
  • Kekonyolan khas Jepang sangat terasa, bersanding dengan hangatnya drama
  • Para aktor pemeran adalah pemain baru, so this one is the best debut!
  • Unsur twistnya nggak nahan, bener-bener nggak kepikiran
  • Sutradara sukses membawa idealismenya dalam sebuah konsep yang matang
Bad
  • Di tengah film terjadi sebuah kondisi membingungkan, ini cukup bahaya kalau sutradara terlalu lama memberikan durasi di bagian ini
  • soundtrack yang dipakai kurang nendang, kurang Jepang
9
Amazing
Written by
Being adult with the spirit of Samurai X and Neon Genesis Evangelion, this man now decided to make a team of superhero like Avengers. Moviegoers and you can follow his visual track on instagram.

Is the Story Interesting?

1 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>