Ready or Not – Review: Drama Menantu-Mertua yang Buas dan Liar!

User Rating: 7.5
(L to R) Kristian Bruun, Melanie Scrofano, Andie MacDowell, Henry Czerny, Nicky Guadagni, Adam Brody, and Elyse Levesque in the film READY OR NOT. Photo by Eric Zachanowich. © 2019 Twentieth Century Fox Film Corporation All Rights Reserved

Setiap keluarga punya tradisi yang unik dan menggelitik, pun demikian dengan keluarga Le Domas dalam film Ready or Not.

Dimotori sang ayah, Tony (Henry Czerny) dan sang ibu, Becky (Andie MacDowell), keluarga ini selalu punya ritual yang cukup bikin bulu kuduk merinding, Hide and Seek alias main petak umpet. Berbeda dengan petak umpet biasa, setiap anggota keluarga berhak menggunakan senjata tajam seperti busur panah elektrik, shotgun hingga parang untuk memburu targetnya.

Yang bikin menariknya lagi adalah sang target adalah menantu yang baru saja diikat tali pernikahan oleh salah satu anggota keluarganya. Dalam hal ini, Grace (Samara Weaving) harus mengikuti permainan ini sebagai syarat gabung menjadi anggota keluarga usai menikahi anak pewaris kekayaan keluarga Le Domas, Daniel (Adam Brody).

Pastinya De Lomas bakal melakukan segala intrik guna menangkap dan membunuh sang menantu, Grace. Apalagi, ancaman kematian dari sang leluhur menjadi konsekuensi yang harus ditanggung apabila gagal.

Sementara itu, Grace yang panik berusaha menyelamatkan diri mencoba mengandalkan Daniel yang mengaku sangat mencintainya. Pertanyaannya, apakah komitmen Daniel yang akan mengeluarkannya dari lubang kematian? Atau justru sebaliknya?

Horror Comedy yang Lengkap

Berdurasi 95 menit, Ready or Not merupakan paket horror comedy yang sangat lengkap. Apalagi sang sutradara, Matt Bettinelli dan Olpin Tyler Gillett mampu mengangkat isu sosial dalam sebuah keluarga besar yang kerap menimpa hubungan antar mertua-menantu.

Dengan tone cerita yang cukup dark dan pekat di tengah, Ready or Not seakan enggan menanggalkan selera humor yang receh lewat dialog antar karakternya. Sosok Grace yang diperankan Samara Weaving nggak terlihat kerja sendirian untuk menghidupi keseluruhan cerita, lho.

Soalnya, tiap karakter yang terlibat di Ready or Not punya sifat dan kebiasaan yang saling bertentangan. Jadi, nggak bakal heran, gelak tawa bakal muncul di dalam atmosfer intense yang mendebarkan jantung.

Beberapa jumpscare unik muncul guna menambah keasyikan para penonton menikmati tiap bait ceritanya. Penggunaan CGI pun nggak terasa berlebihan dan hanya dihadirkan pada akhir-akhir film saja.

Dengan konsep horror gore, Ready or Not cukup mampu membuat para penonton mengernyitkan dahi dengan visualisasi yang apik. Meski ada darah yang dilibatkan, para penonton justru akan dibuat tertawa terbahak-bahak lewat aksi kocak para karakternya.

Beberapa bagian dalam film ini memang masih terlihat kurang. Terutama peran dari karakter pendukung utama yang terasa menghilang di pertengahan film. Padahal, sosoknya diharapkan menjadi jembatan atau bahkan penyelamat karakter utamanya.

Tetapi, nyatanya, keputusan ini diambil kedua sutradara untuk mengamankan ending yang sangat epik dan mungkin bisa dibilang nggak ketebak sama sekali. Dengan bujet USD 6 juta, Ready or Not adalah black horror comedy yang segar dan juga menegangkan untuk dinikmati di akhir pekan.

Summary
Kalau kamu mencari film horor yang tergolong ringan dan nggak begitu bikin kamu takut, Ready or Not berarti adalah jawaban dan pilihan yang tepat. Kamu akan melihat komedi horor yang nggak biasa di film ini, bahkan endingnya nggak bisa kamu tebak.
Good
  • Perkembangan masing-masing karakternya menarik
  • Menyuguhkan paket lengkap komedi horor
  • Ending yang nggak bisa ditebak
Bad
  • Pemerang pendukungnya nggak berasa hadir di film ini. Sekedar numpang lewat.
7.5
Good

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>