Red Sparrow – Review : Renyah di Luar, Basi di Dalam

User Rating: 4.5
Akhirnya Jennifer Lawrence kembali jadi bintang lagi dan beraksi di film Red Sparrow. Akankah dirinya seikonik Katniss Everdeen? (doc. 20th Century Fox)

Bagi yang mengenal, Jennifer Lawrence adalah aktris yang sangat flamboyan. Ia mampu mengubah film dengan narasi sederhana menjadi tontonan yang jauh lebih serius dan padat lewat aktingnya di layar lebar, seperti di film terbarunya yang berjudul Red Sparrow.

Lupakan peran minor di franchise film X-Men, karena Jennifer sukses menghipnotis khalayak lewat Passengers maupun film seabsurd Mother!. Bradley Cooper, aktor yang empat kali main dan berbagi ranjang di Silver Linings Playbook, Joy, American Hustle dan Serena rela bias menilai kualitas aktris yang kerap disapa JenLaw ini.

“Saya punya rasa hormat yang besar kepadanya. Sebagai seorang aktris, dia adalah yang terbaik saat ini. Saya belajar banyak darinya karena kamu selalu ingin bekerjasama dengan orang-orang yang lebih baik dari kamu,” ucapnya.

Sosok JenLaw kadang bisa menghipnotis kita dengan gayanya di setiap film. (doc. 20th Century Fox)

Komentar Cooper bukan hisapan jempol belaka. Berbagai rumah produksi menolak menyerah mengejar tanda tangan JenLaw yang jelas-jelas punya sifat picky soal pekerjaan.

Namun, saat seorang sutradara sekelas, Frances Lawrence datang dan membujuknya untuk bermain dalam sebuah film spy penuh intrik politik, Red Sparrow, kata “Yes” tersembul dari bibir JenLaw. Keduanya adalah alasan trilogi The Hunger Games memetik sukses besar di Hollywood.

Brutal 140 menit

Memanfaatkan tensi panas Amerika Serikat dengan Rusia, Red Sparrow adalah film yang brutal. Jangan bandingan dengan Atomic Blonde karya David Leitch atau Fair Game-nya Doug Liman karena film ini jauh lebih serius dan pekat. Dengan durasi panjang 140 menit, film ini menyajikan spy thriller yang mengganggu iman dan batin. Berbagai adegan seks vulgar hingga sesi penyiksaan kejam ala Rusia adalah sajian utama film yang nyaris tanpa action ini.

Dominika Egorova (Jennifer Lawrence) dikisahkan sebagai seorang ballerina yang harus mengakhiri karir profesionalnya akibat sabotase rekan manggungnya. Cedera parahnya menuntut Dominika menerima pekerjaan berat dari sang paman, Ivan Dimitrevich Egorov (Matthias Schoenaerts), yaitu bekerja sebagai mata-mata negara.

Hal tersebut akhirnya dilakukan Dominika untuk membantu biaya perawatan sang ibu yang tengah sakit keras. Ia pun harus rela dikirim ke sekolah mata-mata negara bernama Red Sparrow.

Aktingnya tentu aja masih membuat kita terpesona. (doc. 20th Century Fox)

Red Sparrow sendiri adalah sekolah sadis. Setiap murid, termasuk Dominika, dipaksa untuk melakukan berbagai adegan seronok, termasuk berzinah dengan rekannya sendiri, sebagai materi pembelajaran merayu musuh. Nggak lama, Dominika pun terpaksa dipulangkan usai ketahuan menghajar rekan satu sekolah yang mencoba memperkosa.

Namun sekolah tersebut bukan akhir dari segalanya. Sang paman yang kebetulan dapat tugas dari atasannya untuk mencari tahu soal mata-mata Amerika Serikat bernama Nate Nash (Joel Edgerton), masih percaya Dominika punya talenta. Dengan sigap, Ivan menyuruh Dominika untuk pergi ke Budapest, Hongaria, untuk mengorek informasi tentang Nash. Ia pun mengancam untuk memenjarakan Dominika atas nama negara jika gagal mengorek informasi dari Nash.

Dari sinilah, Dominika menimbang pilihannya, antara menuruti kata-kata sang paman atau justru membelot ke Amerika Serikat. Terlebih, ia malah jatuh hati dengan Nash yang ternyata cukup membuat hati kakunya luluh.

Hanya dipermukaan

Jika dirunut, Red Sparrow bukan film pertama JenLaw di mana ia tampil brutal dan seronok. Namun, film yang diproduksi oleh 20th Century Fox ini memberikan ruang dan fasilitas lebih untuk JenLaw bereskpresi, terutama mimik wajah yang tajam dan elegan. Jantung dipacu berdetak tiap kali JenLaw mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Meski disampaikan dalam Bahasa Inggris, JenLaw sangat faseh menempelkan aksen Rusia yang bikin mengigil.

Tatapan dan ekspresinya totalitas banget, bahkan kadang bikin kita mikir, “Ini JenLaw yang mana ya?” (doc. 20th Century Fox)

Karakter Dominika yang dingin seakan menghantui sepanjang film. Kamu bakal dipaksa untuk menunggu hal apa yang akan dilakukannya tanpa mampu menebak musibah apa yang siap menimpa.

Sayang, Red Sparrow bukan film yang pas bagi JenLaw maupun Dominika. Plot di beberapa adegan terasa jumpy dan tanpa dinamika, menciptakan kebingungan yang menumpuk di akhir film. Yang lebih parah adalah film ini memunculkan banyak nama karakter yang mengambang, tanpa ada detil konkrit.

Alurnya pun terasa sangat lambat, bahkan untuk film spy thriller sekalipun. Romantisme Dominika dengan sang pecandu hatinya, Nash jauh terlambat tercipta dan terkesan instan.  Meskipun ending film cukup mencengangkan, Red Sparrow adalah film yang cukup basi dan melelahkan untuk diikuti.

Film ini cukup membuat frustrasi, secara positif, lewat karakter Dominika yang memperkokoh permukaannya aja. Sayang, layaknya kapal yang karam di tengah laut, Red Sparrow justru tenggelam dengan kisahnya sendiri.

Summary
Nampaknya nama Jennifer Lawrence sedikit ternoda gara-gara Red Sparrow ini. Aktingnya jadi kurang total karena dari segi ceritanya sendiri masih banyak kekurangan, terutama dari segi alur yang lambat dan kisahnya masih meninggalkan banyak pertanyaan di akhir film.
Good
  • Brutalnya cukup dapet. Termasuk adegan-adegan "syur" yang bikin bulu bergidik
  • Akting JenLaw yang cukup tegas
Bad
  • Ceritanya banyak mengambang dan jumpy
  • Kisahnya meninggalkan banyak pertanyaan buat yang menonton
  • Alurnya lambat banget
  • Romantisme antara Dominika dan Nash instan banget dan nggak terbangun secara perlahan
4.5
Poor

Is the Story Interesting?

4 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>