Scary Stories to Tell in the Dark – Review: Dongeng Sebelum Tidur yang Mengerikan

Kamu termasuk orang yang masa kecilnya suka dengan dongeng horror sebelum tidur? Maka Scary Stories to Tell in the Dark jadi film yang cocok banget buat kamu tonton bareng orang terdekat.

Yap, film horor garapan André Øvredal (The Autopsy of Jane Done, Trollhunter) ini menawarkan storytelling yang cukup menegangkan. Plus, kolaborasinya dengan filmmaker legendaris, Guillermo del Toro bikin film ini makin hidup.

Menariknya, Scary Stories to Tell in the Dark langsung diadaptasi dari tiga buku horor berjudul sama yang sempat jadi kontroversi di era 80-an. Apalagi buat yang pernah baca, buku karangan Alvin Schwartz ini sempat dicap disturbing oleh para orang tua sebelum dirilis ulang pada 2011 dengan kisah yang lebih friendly.

Pertanyannya, dengan banyak cerita di dalamnya, apakah keputusan sang produser, de Toro menanggalkan format antalogi berujung bencana? Emm…. jawabannya tidak sama sekali!

3 Cerita 1 Alur

Scary Stories to Tell in the Dark membuka tirainya dengan sekelompok remaja yang terobsesi dengan kisah misteri yang berasal dari sebuah rumah hantu di Mill Valley, Pennsylvania. Dipimpin oleh Stella (Zoe Margaret Colleti), mereka berusaha menjawab teka-teki kematian dari Sarah Bellows, salah satu anggota pemilik rumah hantu tersebut.

Di dalam, Stella bersama Auggie (Gabriel Rush), Chuck (Austin Zajur) dan kenalan barunya, Ramon (Michael Garza) menemukan sebuah buku yang diklim milik Sarah Bellows. Buku tersebut berisikan cerita horor yang ditulis langsung oleh Sarah selama hidupnya.

Stella yang kebetulan sangat menggemari cerita horor pun membawa pulang buku tersebut. Nggak disangka, petaka pun menghampiri saat buku tersebut menuliskan cerita bagaimana satu per satu temannya dihabisi oleh para monster. Mulai dari Tommy (Austin Abrams) hingga Chuck menghilang tanpa jejak, diculik para monster tersebut.

Satu-satunya cara Stella untuk menghentikan kutukan ini adalah bertemu dengan arwah Sarah Bellows. Tapi, nggak semudah itu karena ia dan Ramon justru dikejar-kejar monster yang nggak kalah mengerikannya.

Berdurasi 108 menit, Scary Stories to Tell in the Dark menyajikan tiga cerita horor dalam satu film. Menariknya, ketiganya sama sekali nggak melepaskan diri dari alurnya yang selalu tampil mencekam sejak pertengahan.

Selain itu, penokohan karakter yang cukup kuat menjadi nilai plus tersendiri di samping penulisan dialog yang jauh lebih berwarna dan terkesan fun. Mengingat, Scary Stories to Tell in the Dark adalah film horor klasik yang menawarkan jumpscare mendidih!

Bonusnya, kamu bakal dimanjakan dengan karakter-karakter monster yang menyeramkan dan terasa hidup. Sebut saja The Toe Monster, Jangly Man dan Harold the Scarecrow. Maklum saja, Guillermo del Toro punya andil besar dalam penggarapan live animated character  yang halus dan apik.

Satu hal yang bikin sebal dari Scary Stories to Tell in the Dark adalah kehadiran karakter antagonis utama, Sarah Bellows (Kathleen Pollard) yang terasa kurang. Bahkan, cenderung kentang disaat film ini membutuhkan titik klimaksnya.

Terlepas dari hal tersebut, Scary Stories to Tell in the Dark adalah film horor yang fun dan menggigit, membawa kita kembali ke dongeng-dongeng mistis di masa lalu.

7 out 10

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>