Sebelum Iblis Menjemput – Review: Nggak Cuma Modal Jumpscare

User Rating: 8.5

Alfie (Chelsea Islan) harus berurusan dengan keluarga tirinya ketika sang ayah, Lesmana (Ray Sahetapy) sekarat setelah mengidap penyakit yang tak jelas. Maya (Pevita Pearce) dan Ruben (Samo Rafael) meminta tolong pada Alfie agar dapat membantu biaya pengobatan ayah mereka. Di sana, Alfie melihat sesosok mahluk yang sepertinya berhubungan dengan penyakit yang diderita Lesmana. Untuk mengetahui misteri masa lalu ayahnya, Alfie kemudian datang menyelidiki Vila yang ia warisi dari Lesmana.

Alfie tidak memiliki hubungan baik dengan keluarga tirinya, terutama karena Lesmana yang meninggalkan Ibunya untuk Laksmi (Karina Suwandi). Hal tersebut menyebabkan Alfie kurang menerima keberadaan Laksmi dan anak-anaknya yang ikut datang ke vila untuk mencari harta Lesmana untuk mereka gunakan.

Belakangan Alfie, Maya, dan Ruben mengetahui bahwa kekayaan Lesmana merupakan hasil dari ritual pemujaan setan yang telah ia lakukan di vila tersebut. Dan sekarang adalah saatnya mereka semua harus membayar apa yang Lesmana lakukan.

CAN’T CATCH A BREATH

Sebelum Iblis Menjemput menurut saya berbeda dengan tipikal film horor indonesia, yang umumnya fokus pada jumpscare dan nuansa yang kelam, Sebelum Iblis Menjemput terasa lebih seperti film thriller dan gore yang sarat dengan visual yang bloody, dirty, and messy (in a good way). adegan-adegan sadis tidak ditampilkan secara langsung, namun cukup suggestive sehingga kalau kalian mudah terganggu dengan adegan sadis, mungkin bisa mempersiapkan diri dulu sebelum menontonnya

Tidak banyak adegan-adegan diam dan sunyi dalam film ini. Hampir sepanjang film yang berdurasi 110 menit ini penonton tidak bisa beristirahat menikmati adegan-adegan seram dan konflik antara Alfie dan keluarga tirinya.

Nggak heran sih mengingat film-film arahan Timo Tjahjanto sebelumnya, seperti Rumah Dara (2010), Killers (2013), atau Safe Haven adalah film-film slasher yang penuh darah. Kalau penonton tidak terbiasa (seperti saya), perasaan setelah menonton film ini seperti habis melakukan maraton. Ngos-ngosan cuk.

TOP PERFORMANCE

Namun terlepas dari berbagai teror yang menimpa Alfie cs, film ini memiliki plot yang simpel. Sebagian besar kisah Sebelum Iblis Menjemput berfokus pada usaha Alfie bertahan hidup. Tidak banyak penjelasan mengenai entitas — atau hantu, yang menyerang mereka. Kita juga tidak mengetahui alasan mengapa Alfie membuat scrapbook yang berisi berita tentang keluarga Lesmana. dibuat oleh Kita tidak mengetahui seberapa besar harga yang harus Lesmana korbankan atas kekayaannya.

Untungnya plot cerita yang sederhana ini tidak terlalu menonjol. Saya sebagai penonton lebih terkesima dengan kemampuan Akting para Aktor. Chelsea yang sering terlihat sebagai perempuan manis dan ramah, mampu berubah menjadi Alfie, perempuan dingin yang waspada. Begitu pula Pevita. Dalam film ini dia bukan berperan sebagai gadis baik yang cinta damai.

Maya digambarkan sebagai perempuan yang insecure, sehingga ia akan menghalalkan segala cara untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya, meskipun itu berarti mengorbankan saudara tirinya sendiri. Another hat tip untuk Chelsea dan Pevita karena film ini adalah debut mereka berakting dalam film horor. Selain Pevita dan Islan, akting Karina Suwandi juga menakjubkan. Sebagai Laskmi, Karina mampu menampilkan diri sebagai perempuan classy, tapi juga menyeramkan.

Sebagai film horor dengan banyak adegan sadis, film ini banyak menggunakan visual efek. Beberapa adegan menggunakan efek yang baik, satu adegan yang paling saya suka adalah satu adegan ketika salah satu aktor yang merobek mukanya sendiri. Sayangnya kualitas visual efek ini saya lihat kurang konsisten sepanjang film ini.

NB: Review ini ditulis oleh teman kami, Ganda Ridwan, seorang moviegoers asal Palembang.

Summary
Sebelum Iblis Menjemput memberikan pengalaman horor yang berbeda dengan film-film horor indonesia belakangan. Pace cerita yang agak cepat dan sentuhan a la film slasher mungkin akan membuat kamu berpikir dua kali bila tidak terlalu suka adegan yang penuh darah, tapi bagi pecinta film horor yang tidak masalah dengan adegan gore, you won’t regret watching this movie.
Good
  • Teror hampir sepanjang film
  • Top performance dari para pemeran
  • Banyak scene yang memorable (alias bikin trauma)
Bad
  • Kualitas visual efek yang nggak konsisten
  • Tempo yang terlalu tinggi
8.5
Great
Written by
さあ、実験を始めようか?

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>