Slender Man – Review: Pepesan Kosong Yang Terlalu Konyol!

User Rating: 3.5

Hollywood kedatangan satu lagi film horor supernatural. Usai diguncang oleh Hereditary yang tampil memesona bulan lalu, kini ada Slender Man yang coba merangsek naik.

Kisahnya sendiri cukup menarik untuk diangkat, tentang fenomena karakter fiksi yang sempat viral di dunia maya 2009, The Slender Man. Saking fenomenalnya, karakter ini pun dianggap sebagai pelaku utama percobaan pembunuhan terhadap seorang gadis 12 tahun di Wisconsin.

Dinahkodai Sylvan White (I’ll Always Know What You Did Last Summer, The Losers), banyak yang berharap film ini memberikan plot dan atmosfer yang lebih segar dan mencekam. Mengingat biaya produksinya yang mencapai USD 28 juta terbilang cukup besar untuk sebuah film horor supernatural seperti ini.

Ekspektasi publik pun melonjak saat tiga trailer utama dirilis pada tahun lalu. Dengan tone gelap serta padat, bayangan menyaksikan film dengan banyak jumpscare dan twist mengena di hati terbayang di pikiran. Sayang, semua itu hanyalah bualan kosong saja. Nyatanya, Slender Man adalah film horor yang kosong!

Halusinasi Tiga Gadis

Slender Man membuka tirainya dengan persahabatan empat gadis, Wren (Joey King), Hallie (Julia Goldani Telles), Chloe (Jaz Sinclair) and Katie (Annalise Basso). Sejak heboh di sekolahnya, mereka nekat buat ikutan memanggil Slender Man lewat sebuah ritual.

Ketakutan mereka mulai terbukti saat salah satu dari rekannya, Katie tiba-tiba menghilang dari kediamannya. Mereka percaya kalau Katie diculik oleh si makhluk misterius yang bergentayangan.

Demi menyelamatkan sahabatnya, ketiga gadis yang tersisa coba untuk berkomunikasi dengan Slender Man. Syaratnya, mereka harus menutup kedua mata selama berkomunikasi jika ingin terhindari dari kematian. Pada prakteknya, salah satu dari mereka, Chloe terserang kepanikan dan bereaksi dengan membuka matanya. Sosok bayangan Slender Man pun muncul dihadapannya.

Sejak itulah, ketiganya mulai diserang halusinasi berat, khususnya Hallie dan mencoba mencari cara agar ketiganya bisa selamat dari terkaman Slender Man.

Konyol dan Membosankan

Diproduksi oleh Sony Picture, Slender Man punya banyak masalah bahkan sebelum perilisannya. Ditolak penayangannya di Wisconsin, kota di mana terjadinya penyerangan terhadap gadis kecil pada 2014 lalu, film ini mengalami banyak pemotongan adegan penting.

Ini terjadi lantaaran Sony mengejar rating PG-13, sesuai dengan target pasar mereka, remaja, tanpa berkomunikasi dengan produser dan sutradara. Alhasil, beberapa adegan gore dan berdarah dipotong, menjadikan film ini terasa nggak sempurna.

Nggak heran, 20-30 menit pertama, film ini terasa konyol. Banyak karakter muncul dan menghilang secara random. Hal ini diperparah dengan penampilan medioker para aktornya, meski memiliki seorang Joey King (The Conjuring, The Kissing Booth) sebagai bintangnya.

Alurnya pun terasa sangat jumpy lantaran banyak adegan yang dipotong. Makin parah, film ini terlihat seperti tanpa arah, terutama pada fokus protagonis maupun ceritanya, entah itu ingin lebih menunjukkan sisi brutal gadis-gadis ini atau Slender Man-nya sendiri. Jadi, jangan menyesal jika kamu bakal merasa 93 menit berjalan dengan sangat membosankan.

Namun, film ini masih punya beberapa sisi positif kok. Selain kualitas CGI yang mumpuni, Slender Man mampu menghadirkan beberapa jumpscare yang patut diberikan acungan jempol lantaran penempatan momen yang pas.

 

Summary
Slender Man merupakan film horor tanpa cerita yang nggak layak untuk ditonton. Sangat disayangkan, karena film ini adalah salah satu contoh buruk yang seharusnya dapat dihindari!
Good
  • CGI yang mumpuni
  • Jumpscare di momen yang tepat
Bad
  • Banyak adegan penting yang dipotong
  • Karakter-karakter yang muncul dan menghilang begitu saja
  • Akting yang medioker
  • Alur loncat-loncat akibat pemotongan adegan yang berlebihan
  • Nggak punya fokus yang jelas
3.5
Bad

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>