Terminator: Dark Fate – Review: Yang Terakhir Untuk Arnold Schwarzenegger?

Ada banyak pertanyaan perihal masa depan Arnold Schwarzenegger di kancah perfilman Hollywood, kapan sih beliu pensiun? Nah, sekuel kelima Terminator, Dark Fate yang akan menjawab semua rasa penasaran!

Kembali kerja bareng dengan James Cameron, yang kini berlaku sebagai produser, Schwarzenegger punya tugas yang cukup berat dan pelik. Di mana, ia harus mengobati penampilan buruk sekuel sebelumnya, Terminator Genisys di Box Office.

Selain itu, mantan Walikota California ini seakan punya kewajiban untuk memberikan kado terbaik bagi penggemarnya. Mengingat, Terminator: Dark Fate bisa jadi film Terminator yang akan terakhir ia bintangi.

Nggak heran, ketika sang sutradara, Tim Miller yang sukses dengan Deadpool-nya diumumkan, Schwarzenegger sangat antusias menyambut proyek Terminator: Dark Fate. Pun demikian dengan James Cameron yang dari awal menginginkan kehadiran Schwarzenegger di film ini.

Kencang Sejak Awal

Terminator: Dark Fate membuka tirai dari momen di mana Sarah Connor, (Linda Hamilton) harus merelakan sang buah hati, John pergi untuk selamanya. T-800 Model 101 atau Carl (Arnold Schwarzenegger) datang dari masa depan atas utusan Skynet untuk membunuh John. Mengingat, di Terminator 2 dan 3, John punya andil besar untuk menghentikan kiamat yang diakibatkan oleh kehadiran Terminator.

Sementara itu, di sudut dunia lainnya, tepatnya di Meksiko, Dani Ramos (Natalia Reyes) harus berjuang lolos dari maut saat utusan Skynet lainnya, Rev-9 datang untuk membunuhnya. Bahkan, ia harus melihat adik yang ia cintai tewas di tangan sang Terminator.

Dani sendiri dibidik karena dianggap Skynet sebagai ancaman untuk menghentikan dominasi mereka di masa depan. Di mana, Terminator menguasai seluruh permukaan bumi dan menciptakan kiamat bagi manusia.

Untungnya, usaha Dani untuk melawan Rev-9 dibantu oleh hadirnya Grace (Mackenzie Davis). Seorang prajurit yang datang dari masa depan untuk mengamankan Dani dan masa depannya. Makin menarik, lantaran Sarah Conor melibatkan diri dalam usaha penyelamatan Dani karena percaya ia dapat menemui pembunuh sang putra, John.

Dengan alur cerita yang sangat padat, Terminator: Dark Fate tampil kencang sejak awal. Para penonton disuguhkan dengan desingan senjata hingga dentuman ledakan yang merata dari awal hingga pertengahan. Pertarungan antara Grace dengan Rev-9 patut mendapatkan perhatian khusus. Keduanya berhasil menampilkan adegan fighting yang terasa real dan intense.

Sayangnya, saking padatnya, terlalu banyak konflik yang muncul, bahkan di 30 menit awal. Mulai dari dendam Sarah ke Carl, Rev-9 ke Dani, hingga masalah terbesarnya, umat manusia dengan Skynet dan masa depan yang dalam film ini pun masih terasa abu-abu!

Sehingga sering kali penonton terjebak ke dalam pertanyaan yang cukup besar, mau di bawa ke mana sih ending-nya? Well, kebingungan ini yang ternyata menjadi senjata tersendiri sang sutradara, Tim Miller dalam meramu adegan per adegan.

Penonton pun digiring untuk menjauhi diri menebak bagaimana film ini diakhiri. Misinya adalah untuk membawa penonton menikmati sensasi rollercoaster alur yang naik turun sepanjang film. Bahkan, di ujung, kamu bakal dapat ending yang lumayan mengharukan lantaran melibatkan dua karakter besarnya.

Meski secara box office, Terminator: Dark Fate nggak terlalu menunjukkan perubahan signifikan, terutama dari dua film sebelumnya. Setidaknya, film ini memberikan jalan baru dan segar untuk melanjutkan Terminator-Terminator selanjutnya.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.