The Man from The Sea – Review : Kisah Klasik Manusia dan Alam

User Rating: 7

Membahas sebuah bencana dalam sebuah karya seni bukanlah hal mudah. Sebuah tema sensitif yang bila salah dalam proses eksekusi, akan menimbulkan kemarahan untuk para korban. The Man from the Sea adalah contoh sukses bagaimana sebuah film dalam mengangkat tema tsunami di Aceh dalam balutan fantasi khas Jepang dan juga atmosif hangat persaudaraan antara orang-orang dari negara yang berbeda.

Seorang pria misterius, telanjang ,dan enggan bicara ditemukan di pesisir pantai Banda Aceh, yang selanjutnya diberi nama Laut (Dean Fujioka). Pertemuan Laut dengan orang-orang yang menemukannya membuatnya merasa nyaman menumpang tinggal di rumah orang Jepang yang ada di Aceh dan bersahabat dengan remaja-remaja lokal. Kemisteriusannya kian bertambah dengan kekuatan aneh yang dimilikinya. Siapa sebenarnya Laut dan apa hubungannya dengan bencana alam tsunami yang memporak-porandakan Aceh di 2004?

Laut sejatinya adalah gambaran dari alam, yang sangat jelas diwujudkan dalam bentuk manusia oleh sutradara Koji Fukada. Pria yang sukses membawa karya sebelumnya, Harmonium, meraih Jury Prize di Un Certain Regard Cannes ini tampak sangat santai dalam menghidupkan karakter Laut. Berharmoni dengan aktor Kawakan Dean Fujioka, kita bisa melihat secara perlahan bagaimana penerimaan para manusia terhadap alam yang kita tempati, keajaiban yang ditimbulkan, kerusakan dan respon balik manusia untuk semua itu.

Menonton The Man from the Sea tidak ubahnya seperti melihat film kolaborasi. Meski memang film ini karya tiga negara (Jepang, Indonesia, Perancis) namun secara gambaran luar ini film yang Jepang banget. Alur lambat yang diiringi long shot, warna subtle dan pemberian kehidupan ke karakter yang sangat mendalam.

Sampai sekarang saya pun masih ingat dengan jelas bagaimana sifat tiap-tiap karakter yang hadir. Mulai dari teman-teman remaja Laut seperti Ilma (Sekar Sari) yang pengen jadi wartawan, cowo kaya tapi lugu bernama Kris (Adipati Dolken), sampai ke para remaja Jepang yang diperankan oleh orang Jepang beneran, Taiga dan Junko Abe. Keduanya tampak sangat natural di sini, bahkan Taiga terlihat seperti keturunan Jepang yang benar-benar hidup di Indonesia!

Di sisi lain, film ini terbilang sangat filosofis, Joyfriends. Hal tersebut membuat The Man from the Sea mungkin kurang cocok buat kamu yang kesulitan menikmati film “berat”.

Tapi yang jelas, Koji Fukada berhasil membawa karyanya yang Jepang banget ke pendekatan internasional yang sangat bisa diterima oleh semua orang. Film fantasi yang seakan-akan bisa kita terima segala unsur mistisnya sebagai orang Indonesia, pamer persahabatan yang tidak terikat ras antara Jepang dan Indonesia dan ya, sebuah cerita klasik sekali lagi tentang manusia dan alam. Bagaimana kita bersikap dan bersahabat dengannya.

Summary
Sebuah film yang jujur, baik secara visualisasi dan juga dalam makna cerita. Mampu mengungkapkan apa itu alam dari segi fantasi Jepang namun dalam praktik yang Indonesia banget. Salut untuk sutradara dan para pemerannya yang sudah bersinergi begitu hebat dalam harmoni ini.
Good
  • Karya Jepang dengan pendekatan internasional yang sulit dicari tandingannya
  • Cerita yang dalam, dengan cast yang sangat pas
  • Penggambaran suasana Aceh yang sangat jujur, tidak dibuat-buat
Bad
  • Soundtrack kurang mengigit
  • Film fantasy yang filosofis, kurang cocok untuk mereka yang males mikir
7
Good
Written by
Mulai mengenal pop culture dari manga Dragon Ball dan Doraemon, hingga dihancurkan secara mental dengan Evangelion. Sekarang mencoba bermain secara lebih kreatif di Joypixel.id.

Is the Story Interesting?

0 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.